Akademisi UGM Sebut Investor Menantikan Langkah Perbaikan Pasar Saham
Senin, 2 Februari 2026 | 16:42 WIB
Yogyakarta, Beritasatu.com – Langkah pengunduran diri jajaran pejabat teras Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diakui mengguncang kondisi pasar modal. Kejadian ini tercatat sebagai yang pertama dalam sejarah dan memicu kekhawatiran terhadap kepercayaan investor serta stabilitas pasar keuangan Indonesia.
Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Rijadh Djatu Winardi, menilai reaksi pasar terhadap peristiwa tersebut lebih dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek. Menurutnya, investor saat ini masih menunggu sinyal perbaikan yang nyata dari otoritas pasar modal.
“Pasar pada dasarnya sedang menunggu sinyal perbaikan. Investor ingin melihat langkah konkret, bukan sekadar pergantian figur,” ujar Rijadh kepada Beritasatu.com, Minggu (1/2/2026).
Rijadh mencontohkan kebijakan OJK terkait ketentuan free float minimum 15% bagi emiten di BEI sebagai langkah positif untuk pendalaman pasar. Kebijakan tersebut juga dibarengi rencana perbaikan definisi dan klasifikasi free float.
“Jika kebijakan ini dijalankan secara konsisten, saya melihat potensi peningkatan kepercayaan investor cukup besar,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan perlunya pembenahan struktur perdagangan saham. Rijadh menyoroti dominasi pergerakan indeks oleh saham-saham konglomerasi besar dan market mover, sementara saham-saham LQ45 justru tertinggal.
Kondisi ini dinilai berkaitan dengan struktur free float Indonesia yang relatif rendah, sekitar 23%. Akibatnya, likuiditas pasar terkonsentrasi pada emiten tertentu.
Terkait dampak terhadap iklim investasi, Rijadh berharap peristiwa ini dapat menjadi momentum awal reformasi pasar modal. Ia menyebut pasar modal yang ideal seharusnya berfungsi sebagai ekosistem keuangan yang efisien, transparan, dan teratur.
Ia menekankan pentingnya likuiditas tinggi, perlindungan investor yang kuat, tata kelola emiten yang baik, serta infrastruktur pasar yang andal. Terkait risiko volatilitas pasar, Rijadh menilai tekanan pasar bersifat sementara.
“Penurunan indeks yang terjadi lebih bersifat sentimen temporer, bukan refleksi dari fundamental ekonomi Indonesia yang memburuk,” ujarnya.
Ia menambahkan, pergantian pimpinan BEI dan OJK justru dapat menjadi kabar positif apabila diisi oleh figur yang kredibel dan berintegritas, sehingga kepercayaan investor berpeluang pulih secara bertahap.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




