Hadapi Tarif AS 15 Persen, Indonesia Harus Menang di Efisiensi
Selasa, 24 Februari 2026 | 12:40 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengubah peta perdagangan global. Dari skema tarif yang sebelumnya membuka peluang 0% untuk sejumlah produk, kini seluruh negara, termasuk Indonesia menghadapi tarif global 15%.
Mantan Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan dan eks Duta Besar RI untuk WTO Iman Pambagyo menilai, perubahan ini menciptakan arena persaingan yang relatif setara bagi semua negara.
“Tarif Trump ini menciptakan level playing field, jadi seluruh negara termasuk yang telah melakukan perundingan menghadapi masalah yang sama,” ucap dia dalam The Forum di kantor B-Universe, PIK2, Tangerang, Banten, Senin (23/2/2026).
Menurut Iman, dalam situasi di mana tarif kembali seragam di angka 15%, faktor penentu bukan lagi preferensi tarif, melainkan efisiensi dan daya saing.
“Untuk masuk ke AS dan masuk di bawah global tarif, yang akan menentukan siapa yang menang adalah bagaimana kita efisien untuk ekspor barang ke AS dan negara lain,” tegasnya.
Iman melihat masih ada ruang negosiasi, terutama untuk produk yang tidak diproduksi di AS, seperti kakao dan kopi.
“Untuk produk di mana AS tidak produksi seperti kakao dan kopi, bisa negosiasi, posisi itu kuat,” katanya.
Namun untuk sektor seperti tekstil dan garmen yang memiliki industri domestik di AS, ruang negosiasi dinilai lebih sempit dan bergantung pada kepentingan industri setempat.
Pertanyaan besarnya, apakah tarif 15% lebih baik dibanding skema sebelumnya yang sempat membuka peluang 0% untuk sejumlah pos tarif? Iman menilai jawabannya sangat kontekstual dan tergantung pada struktur ekspor masing-masing negara.
Di tengah dinamika kebijakan tarif sepihak AS, Iman justru melihat momentum penting untuk memperkuat kembali sistem perdagangan multilateral.
Ia menilai, meski AS kerap dianggap menjauh dari sistem WTO, dalam banyak klausul perjanjian, termasuk dengan Jepang-AS masih merujuk pada ketentuan WTO.
“Saya melihat momentum penting di perjanjian itu dan saya yakin dalam banyak poin dan pasal, AS tetap menggunakan WTO agreement. Artinya, AS sebenarnya tidak totally abandoned WTO system,” jelasnya.
Menurut Iman, kondisi global yang “diacak-acak” oleh kebijakan tarif sepihak justru membuka peluang bagi negara-negara anggota WTO untuk menata ulang sistem perdagangan dunia agar lebih adil dan berbasis aturan.
“Ini kesempatan bagi banyak negara untuk memikirkan bagaimana memperbaiki dan menegakkan sistem perdagangan multilateral, yang rules-based dan dihormati semua pihak berdasarkan azas keadilan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti Konferensi Tingkat Menteri (KTM) WTO yang akan digelar di Afrika sebagai momentum strategis untuk membenahi tata kelola perdagangan global.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




