Perbaikan Kondisi Pangan Global Jadi Faktor Positif Jelang Lebaran
Selasa, 10 Maret 2026 | 03:22 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai kondisi pangan global saat ini menunjukkan sinyal stabilisasi yang dapat menjadi faktor positif menjelang Idulfitri 1447 Hijriah di Indonesia.
Peneliti Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Indef Afaqa Hudaya menyampaikan, harga pangan global memang belum sepenuhnya pulih, tetapi tekanan yang sebelumnya cukup tinggi mulai mereda seiring membaiknya kondisi pasokan di berbagai negara.
“Jika dilihat dari stabilisasi harga pangan global di tengah risiko ketahanan pangan, saat ini cukup persisten di mana harga pangan global memasuki fase stabilisasi,” ujarnya dilansir dari Antara.
Afaqa menjelaskan, meredanya tekanan harga pangan global tidak terlepas dari membaiknya produksi pertanian di sejumlah negara, yang juga didukung oleh kondisi cuaca lebih baik sehingga meningkatkan output pertanian dunia.
Mengacu pada laporan Global Economic Prospects 2026 dari Bank Dunia, perbaikan produksi pertanian menjadi salah satu faktor yang memperkuat ketersediaan pasokan pangan global.
Dengan demikian, pelemahan harga yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor produksi dan stok yang relatif memadai. “Meredanya tekanan harga berlangsung dalam konteks pasokan global yang relatif memadai,” kata Afaqa.
Pada sisi domestik, ia menilai dinamika harga pangan menjelang Ramadhan menunjukkan moderasi dibandingkan dengan volatilitas yang terjadi pada tahun sebelumnya.
Meskipun terdapat kenaikan pada beberapa komoditas seperti beras medium, gula, dan minyak goreng, kondisi tersebut masih berada dalam tren yang dapat diantisipasi melalui pengelolaan pasokan yang baik.
Afaqa menilai meningkatnya permintaan selama Ramadhan merupakan fenomena musiman yang wajar dalam siklus ekonomi tahunan. Selain pangan, Afaqa turut menyoroti perkembangan pasar energi global yang dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Meski konflik berpotensi memicu volatilitas harga minyak, kondisi ini menjadi pengingat pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi sumber energi.
Selama satu dekade terakhir, neraca perdagangan migas Indonesia masih berada dalam posisi defisit. Pada akhir 2025, defisit migas tercatat US$ 2,09 miliar, menunjukkan bahwa konsumsi energi nasional masih lebih tinggi dibandingkan kemampuan produksi domestik.
Namun, situasi tersebut mendorong urgensi pengembangan energi alternatif serta peningkatan efisiensi energi nasional. Program bauran energi seperti biodiesel yang telah berjalan menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PSEL di Makassar Dipercepat untuk Atasi Praktik Open Dumping
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Situasi Lebanon Memanas, KSAD Maruli: Prajurit TNI Sudah Paham SOP!




