ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Indef Ingatkan Risiko Defisit APBN Melebihi 3 Persen

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:33 WIB
MK
MK
Penulis: Martin Bagya Kertiyasa | Editor: MBK
Purbaya Yudhi Sadewa.
Purbaya Yudhi Sadewa. (Antara)

Jakarta, Beritasatu.com – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengingatkan pemerintah untuk menyiapkan langkah strategis guna menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan ekonomi global yang meningkat.

Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi mendorong defisit APBN melampaui batas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Menurut Esther, potensi tersebut muncul karena asumsi nilai tukar rupiah dalam APBN berada di kisaran Rp 16.500 per dolar AS. Sementara itu, nilai tukar rupiah saat ini bergerak mendekati Rp 17.000 per dolar AS.

Ia menjelaskan pelemahan rupiah dapat meningkatkan beban anggaran negara karena sejumlah komponen belanja pemerintah menggunakan denominasi dolar AS. 

ADVERTISEMENT

Jika nilai tukar rupiah terus melemah, biaya yang harus ditanggung pemerintah berpotensi meningkat sehingga ruang fiskal untuk menjalankan berbagai program pembangunan menjadi lebih terbatas. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia juga dinilai menambah tekanan terhadap anggaran negara.

“Belum lagi harga minyak sekarang tembus US$ 100 per barel, berbeda jauh dari asumsi harga minyak di APBN yang sekitar US$ 70 per barel,” ujar Esther dilansir dari Antara.

Meski demikian, Esther menilai pemerintah masih memiliki sejumlah opsi kebijakan untuk mengantisipasi kondisi tersebut dan menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Pertama, pemerintah perlu memprioritaskan belanja negara pada program-program yang bersifat produktif, terutama kegiatan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan penerimaan negara.

Sebaliknya, belanja yang bersifat konsumtif dinilai perlu dikurangi bahkan dihentikan agar penggunaan anggaran menjadi lebih efisien.

Kedua, pemerintah juga didorong untuk memperluas sektor-sektor yang berpotensi menghasilkan devisa. Langkah ini dinilai penting karena kebutuhan dolar AS diperkirakan akan meningkat, terutama untuk pembayaran cicilan utang luar negeri serta berbagai transaksi internasional.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Hadapi Krisis Energi, Transisi ke Kendaraan Listrik Harus Dipercepat

Hadapi Krisis Energi, Transisi ke Kendaraan Listrik Harus Dipercepat

OTOTEKNO
Efektivitas WFH Terbatas untuk Tekan Konsumsi Energi Dinilai Minim

Efektivitas WFH Terbatas untuk Tekan Konsumsi Energi Dinilai Minim

EKONOMI
Pemerintah Wajib Siaga Hadapi Harga Minyak US$ 150 Per Barel

Pemerintah Wajib Siaga Hadapi Harga Minyak US$ 150 Per Barel

EKONOMI
Menjaga Daya Beli Masyarakat Harus Jadi Prioritas

Menjaga Daya Beli Masyarakat Harus Jadi Prioritas

EKONOMI
Perbaikan Kondisi Pangan Global Jadi Faktor Positif Jelang Lebaran

Perbaikan Kondisi Pangan Global Jadi Faktor Positif Jelang Lebaran

EKONOMI
Indef: Lebaran Dorong Konsumsi dan Pariwisata Daerah

Indef: Lebaran Dorong Konsumsi dan Pariwisata Daerah

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon