Pemerintah Wajib Siaga Hadapi Harga Minyak US$ 150 Per Barel
Selasa, 24 Maret 2026 | 15:16 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abra Talattov, mengingatkan pemerintah untuk menyiapkan strategi menghadapi lonjakan harga minyak dunia di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.
Menurut Abra, eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran yang telah memasuki minggu keempat mulai memberikan tekanan signifikan terhadap ekonomi global. Salah satu indikatornya adalah harga minyak mentah yang masih bertahan di atas US$ 100 per barel.
Saat ini, harga minyak dunia berada di kisaran US$ 103 per barel, atau sekitar 47% lebih tinggi dibandingkan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN yang ditetapkan sebesar US$ 70 per barel.
“Ketika harga minyak mentah terus bertahan di level tinggi, ditambah tekanan dari nilai tukar rupiah, maka potensi tambahan defisit APBN akan sangat besar,” ujar Abra dalam program Investor Market Today di Beritasatu TV, Selasa (24/3/2026).
Ia menjelaskan, pemerintah sebenarnya telah mengantisipasi potensi tekanan tersebut. Sebelum libur Lebaran, presiden bersama jajaran menteri telah membahas berbagai skenario defisit APBN, mulai dari kondisi optimistis hingga pesimistis.
Meski demikian, pemerintah tetap berupaya menjaga defisit anggaran tidak melampaui batas 3%. Salah satu strategi yang kemungkinan ditempuh adalah realokasi belanja negara untuk mengantisipasi lonjakan subsidi dan kompensasi energi.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah juga disebut telah menyiapkan bantalan fiskal dengan menyisir anggaran hingga lebih dari Rp 800 triliun. Dana tersebut akan digunakan sebagai cadangan apabila diperlukan tambahan subsidi energi.
Namun, Abra mengingatkan bahwa kapasitas APBN tetap memiliki batas. Dalam skenario pesimistis, nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga Rp 17.500 per dolar AS, dan harga minyak di kisaran US$ 115 per barel. Harga minyak juga berpotensi melonjak lebih tinggi hingga mencapai US$ 150 per barel apabila situasi geopolitik terus memburuk.
Ketidakpastian ini diperparah oleh meningkatnya tensi geopolitik, termasuk ancaman dari Presiden AS, Donald Trump, terhadap infrastruktur energi Iran. Karenanya, Abra menegaskan pentingnya kesiapan pemerintah dalam menghadapi berbagai skenario terburuk.
"Kita harus tahu APBN tetap ada limitasinya. Jadi taruh lah skenario pesimistis kurs rupiah Rp 17.500 dan ICP US$ 115 per barel. Kita juga tidak tahu apakah ada risiko harga minyak mentah bisa menyentuh US$ 150 per barrel," pungkas Abra Talattov.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
3 Prajurit Gugur, TNI AD Berduka!
Liburan Sambil Belajar Sains Lewat Museum Iptek TMII
Perbaiki Tanggul Irigasi Makam, Warga Palopo Temukan Granat Nanas
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
TNI Menunggu Hasil Investigasi Terkait Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon




