Wall Street Bervariasi setelah Pidato Trump dan Lonjakan Harga Minyak
Jumat, 3 April 2026 | 08:37 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pergerakan indeks saham utama Amerika Serikat (AS) di Wall Street fluktuatif pada perdagangan Kamis (2/4/2026), sebelum akhirnya ditutup bervariasi. Sentimen pasar dipengaruhi lonjakan harga minyak serta pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kelanjutan konflik dengan Iran.
Mengutip CNBC pada Jumat (3/4/2026), indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi tipis 61,07 poin atau 0,13% ke posisi 46.504,67. Di sisi lain, S&P 500 menguat 0,11% ke level 6.582,69 dan Nasdaq Composite naik 0,18% menjadi 21.879,18.
Sepanjang sesi, pergerakan pasar cenderung volatil. Ketiga indeks sempat berbalik menguat setelah media pemerintah Iran melaporkan adanya kerja sama dengan Oman dalam pengawasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Meski demikian, ketidakpastian tetap membayangi pelaku pasar.
Sebelumnya, Dow Jones sempat jatuh lebih dari 600 poin atau sekitar 1,4%, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing sempat turun 1,5% dan 2,2% pada titik terendah intraday.
Chief Investment Officer CrossCheck Management Todd Schoenberger mengatakan, pembukaan kembali Selat Hormuz memiliki peran vital bagi Amerika Serikat, tidak hanya untuk distribusi minyak tetapi juga helium yang dibutuhkan industri semikonduktor.
“Helium bahkan lebih bernilai dibandingkan minyak impor karena tidak memiliki pengganti,” ujarnya.
Volatilitas pasar turut tercermin dari lonjakan indeks ketakutan pasar atau CBOE Volatility Index (VIX) yang sempat menembus level 27 selama sesi perdagangan.
Managing Director SimCorp Melissa Brown mengatakan pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi reaksi cepat investor terhadap arus informasi.
“Investor ingin kabar baik, tetapi kemudian menyadari ketidakpastian masih tinggi, sehingga volatilitas intraday tetap besar,” jelasnya.
Pernyataan Trump menjadi salah satu pemicu utama gejolak pasar. Dalam pidatonya, ia menyebut Amerika Serikat hampir mengakhiri konflik dengan Iran, tetapi juga menegaskan akan meningkatkan intensitas serangan dalam beberapa pekan ke depan.
Kondisi tersebut mendorong lonjakan harga minyak. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 11,41% ke US$ 111,54 per barel, tertinggi sejak Juni 2022. Sementara itu, Brent naik 7,99% ke US$ 109,24 per barel.
Menurut Brown, harga minyak berpotensi bertahan di level tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Bahkan jika terjadi penurunan, harga bahan bakar diperkirakan tetap mahal sehingga berisiko menjaga tekanan inflasi tetap tinggi.
Meskipun diwarnai volatilitas, kinerja indeks saham selama sepekan masih mencatatkan penguatan. S&P 500 naik 3,4%, Dow Jones menguat hampir 3%, dan Nasdaq mencatat kenaikan tertinggi sebesar 4,4%.
Perdagangan Kamis menjadi sesi terakhir pekan ini karena pasar Amerika Serikat tutup dalam rangka peringatan Good Friday. Pelaku pasar selanjutnya menanti rilis data ketenagakerjaan AS untuk Maret.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




