ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Investor Ragukan Proposal Trump, Harga Minyak Hari Ini Naik 4 Persen

Sabtu, 28 Maret 2026 | 09:35 WIB
MK
MK
Penulis: Martin Bagya Kertiyasa | Editor: MBK
Ilustrasi.
Ilustrasi. (AP)

Houston, Beritasatu.com – Harga minyak dunia ditutup menguat pada Jumat (27/3/2026), sekaligus mencatat kenaikan mingguan karena investor meragukan proposal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dapat meredakan perang.

Minyak mentah Brent naik US$ 4,56 atau 4,2% menjadi US$ 112,57 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat US$ 5,16 atau 5,5% ke level US$ 99,64 per barel.

Sejak 27 Februari 2026, atau sehari sebelum Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, harga Brent telah melonjak 53%, sedangkan WTI meningkat 45%. Secara mingguan, Brent naik sekitar 0,3%, sementara WTI menguat lebih dari 1%.

Pelaku pasar masih bersikap hati-hati terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait pembicaraan dengan Iran. Seorang pejabat Iran menyebut proposal AS yang disampaikan melalui Pakistan sebagai “sepihak dan tidak adil”.

ADVERTISEMENT

Analis StoneX, Alex Hodes, mengatakan investor lebih fokus pada durasi konflik dibandingkan sentimen jangka pendek. Menurut dia, potensi penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan atau kerusakan infrastruktur energi akan menjaga premi risiko tetap tinggi pada harga minyak.

Sementara itu, Presiden Trump memperpanjang tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Di sisi lain, AS juga telah mengirim ribuan pasukan ke Timur Tengah dan tengah mempertimbangkan opsi penggunaan pasukan darat untuk menguasai pusat minyak strategis Iran di Pulau Kharg.

Dalam catatan kepada klien, penasihat perdagangan minyak Ritterbusch & Associates menilai pasar mulai kebal terhadap pernyataan Trump yang bernada optimistis terkait kesepakatan damai, terutama dengan rencana penambahan 10.000 pasukan ke kawasan tersebut.

Konflik Iran telah mengganggu pasokan minyak global sekitar 11 juta barel per hari. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut krisis ini lebih parah dibandingkan dua krisis minyak pada dekade 1970-an.

Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan selama arus minyak melalui Selat Hormuz masih terganggu, lebih dari 10 juta barel per hari pasokan hilang dari pasar, sehingga memperketat kondisi pasokan global.

Analis Macquarie Group memperkirakan harga minyak akan turun cepat jika konflik segera mereda, meskipun tetap berada di atas level sebelum konflik. Namun, harga berpotensi melonjak hingga US$ 200 per barel apabila konflik berlanjut hingga akhir Juni.

Pada sisi lain, produsen minyak Rusia memperingatkan pembeli bahwa mereka dapat menetapkan kondisi kahar (force majeure) atas pasokan dari pelabuhan utama di Laut Baltik setelah serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Wall Street Bervariasi setelah Pidato Trump dan Lonjakan Harga Minyak

Wall Street Bervariasi setelah Pidato Trump dan Lonjakan Harga Minyak

EKONOMI
Update Harga Minyak: Naik Tajam 8 Persen Lebih

Update Harga Minyak: Naik Tajam 8 Persen Lebih

EKONOMI
Update Harga Minyak Dunia: Berbalik Turun 1 Persen

Update Harga Minyak Dunia: Berbalik Turun 1 Persen

EKONOMI
Kenaikan Harga BBM Jadi Langkah Logis di Tengah Tekanan Harga Minyak

Kenaikan Harga BBM Jadi Langkah Logis di Tengah Tekanan Harga Minyak

EKONOMI
Naik Lebih dari 2 Persen, Harga Minyak Hari Ini Sentuh US$ 115

Naik Lebih dari 2 Persen, Harga Minyak Hari Ini Sentuh US$ 115

EKONOMI
Negara Asia Termasuk Indonesia Berebut Beli Minyak Rusia

Negara Asia Termasuk Indonesia Berebut Beli Minyak Rusia

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT