Update Harga Minyak Dunia: Berbalik Turun 1 Persen
Rabu, 1 April 2026 | 20:04 WIB
London, Beritasatu.com – Harga minyak dunia berbalik melemah pada Rabu (1/4/2026) setelah sebelumnya sempat menguat, seiring ketidakpastian situasi di Timur Tengah yang memengaruhi sentimen pasar.
Kontrak minyak Brent untuk pengiriman Juni tercatat turun US$ 1,06 atau sekitar 1% menjadi US$ 102,91 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei melemah US$ 1,44 atau 1,4% menjadi US$ 99,94 per barel.
Sebelumnya, harga sempat menguat, tetapi ketidakpastian terkait konflik di Timur Tengah mendorong investor melakukan aksi ambil untung.
Lembaga keuangan ING dalam laporannya menyebut pelemahan harga terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal potensi berakhirnya konflik dengan Iran.
“Harga minyak turun setelah Presiden AS Donald Trump memberi sinyal kemungkinan berakhirnya perang dengan Iran,” tulis ING dalam laporannya.
Kepala Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) Fatih Birol mengatakan gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah diperkirakan meningkat pada April dan berdampak ke Eropa, terutama akibat penutupan Selat Hormuz yang menghambat ekspor energi.
Meski demikian, pasar masih diliputi ketidakpastian. Trump menyatakan Amerika Serikat dapat mengakhiri operasi militer dalam dua hingga tiga pekan tanpa harus mencapai kesepakatan formal dengan Iran.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal paling kuat sejauh ini terkait keinginan pemerintah AS untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama sekitar satu bulan. Namun, analis memperkirakan aliran energi melalui Selat Hormuz tidak akan langsung kembali normal meskipun gencatan senjata tercapai.
“Meski Selat Hormuz dibuka kembali, pemulihan arus kapal akan memakan waktu. Produksi, ekspor, dan aliran LNG akan pulih secara bertahap, bukan langsung,” tulis ING.
Dampak penutupan Selat Hormuz juga tercermin dari penurunan produksi minyak global. Produksi minyak negara-negara anggota OPEC tercatat turun sekitar 7,5 juta barel per hari pada Maret dibandingkan bulan sebelumnya, akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan.
Di Amerika Serikat, produksi minyak mentah juga mengalami penurunan terbesar dalam dua tahun pada Januari 2026, setelah badai musim dingin mengganggu operasional, menurut data Energy Information Administration (EIA).
Sementara itu, Arab Saudi diperkirakan akan menaikkan harga jual resmi minyak mentah untuk pasar Asia pada Mei ke level tertinggi, seiring meningkatnya harga minyak Timur Tengah akibat gangguan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




