Pertagas Akan Bangun Pipa "Open Acces" Sepanjang 400 Km
Minggu, 10 Januari 2016 | 22:02 WIB
Jakarta- PT Pertamina Gas (Pertagas), anak usaha Pertamina, sepanjang 2016 mengalokasikan investasi sekitar US$ 325 juta. Sebagian besar dialokasikan untuk pengembangan bisnis dengan menambah pipa transmisi open acces sepanjang 400 kilometer (km).
"Hal ini menunjukkan bahwa Pertagas terus tumbuh dan akan terus tumbuh," kata Direktur Utama Pertagas Hendra Jaya, di Jakarta, Minggu (10/1).
Hendra mengatakan, capex salah satunya digunakan untuk membangun pipa open acces sepanjang 400 km pada 2016. Saat ini, perseroan memiliki jaringan pipa transmisi open access terpanjang di Indonesia, yaitu 2.200 km. Dengan sistem open access, semua jaringan pipa perseroan bisa digunakan oleh siapa pun. "Syaratnya, cukup membayar toll fee yang besarannya ditentukan oleh pemerintah, dalam hal ini BPH Migas," ujar Hendra.
Dia mengatakan, Pertamina selaku induk usaha telah berperan dalam seluruh mata rantai bisnis gas terintegrasi di Indonesia dari hulu hingga hilir. "Bisnis Pertagas mendapat dukungan kuat dari induk usaha. Sejarah bisnis gas Pertagas tak bisa dilepaskan dari keberadaan Pertamina (Persero) yang sejak puluhan tahun sejatinya telah menjadikan gas menjadi bagian bisnisnya," kata Hendra.
Vice President Corporate Communication Pertamina PT Pertamina, Wianda Pusponegoro, Pertamina telah mengembangkan infrastruktur gas di level mid-downstream selama 10 tahun terakhir dengan nilai belanja modal (capital expenditure/capex) mencapai US$ 3,685 miliar atau sekitar Rp 45,69 triliun. Belanja modal dialokasikan untuk tiga sektor, yaitu liquefaction sebesar US$ 2 miliar dengan total kapasitas terpasang 260 juta kaki kubik per hari (MMSCFD), pipa sebesar US$ 1,2 miliar sebanyak 950 MMSCFD, dan regasifikasi senilai US$ 485 juta dengan kapasitas 900 MMSCFD.
Menurut Wianda, Pertamina telah membangun sejumlah fasilitas infrastruktur gas, yaitu regasifikasi Arun dengan kapasitas 400 MMSCFD, regasifikasi PT Nusantara Regas 500 MMSCFD, Donggi Senoro LNG dengan kapasitas dua juta metric ton per tahun (MTPA). Di luar itu, perseroan juga menyiapkan pengembangan pipa Arun-Belawan 200 MMSCFD, pipa Belawan KIM-KEK (2016) sebanyak 120 MMSCF, MK-MT-TG (2016) sebanyak 250 MMSCFD, pipa Gresk-Semarang (2016) 250 MMSCFD, dan pipa Porong Grati (2016) sebanyak 122 MMSCFD. "Kami juga akan memulai konstruksi sejumlah proyek, antara lain Duri-Dumai (pada 2017) berkapasitas 100 MMMSCFD, Gas Solution untuk KIT-E 175 MMSCFD, FSRU Cilacap 2018 sebanyak 200 MMSCFD, dan regasifikasi Banten 2019 sebesar 500 MMSCFD," ujarnya.
Wianda mengatakan Pertamina telah berperan dalam seluruh mata rantai bisnis gas terintegrasi melalui LNG liquefaction melalui PT Donggi Senoro LNG, PT Badak NGL, dan PT Perta Daya Gas selain kegiatan eksplorasi dan produksi melalui Pertamina EP, Pertamina Hulu Energi, Pertamina International EP, dan Peramina EP Cepu. Pertamina juga memiliki unit pengapalan melalui Pertamina Shipping dan regasifikasi oleh PT Nusantara Regas (dengan kepemilikan saham 65 persen) serta PT Petra Arun Gas. Di luar itu ada juga pengembangan pipa yang digarap PT Pertagas yang menghasilkan LPG Processing melalui PT Perta Samtan Gas dan enam PLG Plant serta ritel/distribusi CNG melalui Pertagas Niaga dan Pertamina.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
Persiapkan Pemimpin Masa Depan, Pertamina Goes to Campus 2026 Siap Jelajahi Kampus-Kampus di Indonesia
EKONOMIBERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




