ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Minat Investasi Pemerintah di Pertanian Masih Rendah

Selasa, 13 Maret 2012 | 16:05 WIB
DB
B
Penulis: Dessy Sagita/ Whisnu Bagus | Editor: B1
Seorang buruh  membajak sawah dengan traktor di daerah Mojoroto, Kediri, Jawa Timur, Selasa (3/1/12). FOTO  :  ANTARA/Arief Priyono.
Seorang buruh membajak sawah dengan traktor di daerah Mojoroto, Kediri, Jawa Timur, Selasa (3/1/12). FOTO : ANTARA/Arief Priyono. (FOTO : ANTARA/Arief Priyono.)
Kondisi malnutrisi di Indonesia dan negara Asia diperburuk dengan kemiskinan yang semakin meluas.

Rendahnya minat investasi dan perhatian pemerintah di bidang pertanian membuat Indonesia meski negara agrikultur, namun tetap rawan krisis pangan dan malnutrisi.

"Sektor agrikultur sudah mulai ditinggalkan, investasi di bidang ini sangat sedikit," ujar Director of Centre for Alleviation of Poverty through Sustainable Agriculture (CAPSA), Katinka M. Weinberger di Bogor, hari ini.

Menurut Weinberger, sedikit sekali investasi teknologi pertanian terbarukan yang ditujukan untuk pengembangan pasar, serta menyampaikan informasi kepada petani, terutama petani kecil, .

"Kita punya banyak teknologi terbaru di bidang pertanian, yang jadi masalah adalah bagaimana menyampaikan teknologi tersebut kepada yang membutuhkan," ujarnya.

Weiberger mengatakan, banyak petani kecil yang belum memahami dampak perubahan iklim terhadap produktivitas pertanian.

Dia menambahkan Indonesia harus memberi perhatian khusus pada masalah pertanian. Dampaknya, meski dikenal sebagai negara agraris, namun angka malnutrisi di Indonesia masih relatif tinggi.

"Bukan cuma masalah malnutrisi yang masih ada di Indonesia, tetapi juga gizi yang tidak baik, konsumsi beras masih sangat tinggi," ujarnya.

Dia menekankan salah satu misi CPASA adalah untuk mensosialisasikan diversifikasi pangan.

Lebih lanjut Weinberger mengatakan, kondisi malnutrisi di Indonesia dan negara Asia diperburuk dengan kemiskinan yang semakin meluas. Kemiskinan terutama di daerah pedesaan sehingga masyarakat kesulitan  membeli bahan pangan.

"Sayangnya karena Indonesia dianggap sudah memiliki perkembangan ekonomi yang bagus, perhatian para donor utama teralih pada negara-negara di Afrika," ujarnya.

Direktur Indonesian Center for Food Crops Research and Development (ICFORD) Hasil Sembiring,  mengatakan pihaknya mendukung gerakan satu hari tanpa nasi yang baru-baru ini dicanangkan walikota Depok, Nurmahmudi.

"Konsumsi beras kita masih 139 kilogram per orang per tahun, kita harus turunkan itu,'"ujarnya.

Menurut Hasil, ilmuwan Indonesia berusaha mengembangkan berbagai varietas makanan utama (staple food) pengganti beras.

"Jadi kita berusaha memproduksi jagung atau ubi khusus untuk pangan yang rasanya tidak seperti pakan ternak, tetapi bisa sama enaknya dengan beras," ujarnya.


Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Izin Beres 2 Tahun, Prabowo Minta Satgas Khusus Percepat Deregulasi

Izin Beres 2 Tahun, Prabowo Minta Satgas Khusus Percepat Deregulasi

EKONOMI
Kelas Menengah Menyusut, Pertumbuhan Ekonomi RI Dinilai Rapuh

Kelas Menengah Menyusut, Pertumbuhan Ekonomi RI Dinilai Rapuh

EKONOMI
ADB Sebut Asia Pasifik Butuh Investasi Digital Rp 5.500 Triliun

ADB Sebut Asia Pasifik Butuh Investasi Digital Rp 5.500 Triliun

EKONOMI
86 Persen Pemimpin Perusahaan di Asia Pasifik Tingkatkan Investasi AI

86 Persen Pemimpin Perusahaan di Asia Pasifik Tingkatkan Investasi AI

EKONOMI
Ekonom Minta Pemerintah Fokus Perkuat Produksi dan Investasi

Ekonom Minta Pemerintah Fokus Perkuat Produksi dan Investasi

EKONOMI
Butuh Investasi US$ 789,9 M untuk Capai Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Butuh Investasi US$ 789,9 M untuk Capai Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon