Pertamina Siap Akuisisi Aset Salak dan Darajat Milik Chevron
Selasa, 4 Oktober 2016 | 14:14 WIB
Jakarta- PT Pertamina (Persero) menyatakan siap mengambil alih aset panas bumi atau geotermal Salak dan Darajat milik PT Chevron Pacific Indonesia yang terletak di Garut dan Bogor, Jawa Barat.
"Insya Allah Pertamina siap dari sisi operasional maupun pendanaan untuk mengakuisisi aset geotermal milik Chevron," kata Direktur Hulu Pertamina, Syamsu Alam, dalam keterangannya, Selasa (4/10).
Menurut Syamsu, jika Pertamina yang mendapat area panas bumi yang akan dilepas Chevron, pengelolaan akan diserahkan ke anak usaha perseroan yang di sektor panas bumi yakni PT Pertamina Geothermal Energy (PGE).
Ketua Asosiasi Panas Bumi Indonesia Abadi Purnomo, mengatakan sudah sepantasnya Pertamina mendapatkan prioritas pertama mengajukan penawaran terhadap aset panas bumi yang dilepas Chevron Indonesia Company. Selain Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Salak dan Darajat notabene milik Pertamina, perusahaan pelat merah itu juga telah mengoperasikan sejumlah lapangan panas bumi di Indonesia. "PGE mengetahui secara pasti kondisi lapangan karena Chevron dalam JOC dan ESC secara rutin melaporkan ke Pertamina," ujar dia.
Menurut Abadi, WKP Salak dan Darajat merupakan milik Pertamina yang kemudian dioperasikan Chevron melalui joint operation contract (JOC) dan energy sales contract (ESC) pada 1984. Dua anak perusahaan Chevron, Chevron Geothermal Indonesia, Ltd mengelola Darajat dan Chevron Geothermal Salak, Ltd., mengoperasikan Salak. Operasi Darajat memasok uap panas bumi ke pembangkit yang mampu menghasilkan listrik berkapasitas 270 megawatt (MW). Sementara operasi Salak, salah satu operasi panas bumi terbesar di dunia, memasok uap ke enam unit pembangkit listrik – tiga di antaranya merupakan milik perusahaan – dengan total kapasitas operasi mencapai 377 MW.
Menurut Abadi, jika aset panas bumi Salak dan Darajat dikuasai kembali Pertamina akan membuktikan komitmen kuat pemerintah dalam pengembangan panas bumi nasional. "Ini juga membuktikan bahwa anak bangsa bisa mengelola aset panas bumi dengan baik. Pertamina juga akan menjadi the biggest producer of geothermal energy," kata Abadi.
Pemerintah merekomendasikan kepada Chevron Indonesia Company untuk memprioritaskan BUMN dalam mengelola aset panas bumi Chevron di Darajat dan Salak yang menghasilkan listrik 647 megawatt (MW). "Kami tandaskan ke Chevron, apabila hanya sedikit selisihnya, mungkin bisa diberikan ke BUMN. Pada prinsipnya, statement pemerintah kepada Chevron, pada saat terdeliver alih perusahaan ke yang baru itu kualitasnya minimal sama," kata Direktur Panas Bumi Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yunus Saefulhak.
Menurut Yunus, dari sekitar 44 penawaran yang berminat terhadap aset panas bumi Chevron, di antaranya Pertamina, PT PLN (Persero), PT Medco Power Indonesia, Mitsui and Co Ltd, Marubeni Corporation, dan PT Star Energy.
Yunus menambahkan manajemen Chevron telah menyampaikan kepada pemerintah bahwa pelepasan aset panas bumi perseroan ditargetkan tuntas Januari 2017. Target tersebut mundur dari sebelumnya pada Desember 2016.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
Persiapkan Pemimpin Masa Depan, Pertamina Goes to Campus 2026 Siap Jelajahi Kampus-Kampus di Indonesia
EKONOMIBERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




