ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kuartal III, CAD Membaik ke Level 1,83% PDB

Minggu, 13 November 2016 | 12:03 WIB
YW
B
Penulis: Yosi Winosa | Editor: B1
Ilustrasi BI
Ilustrasi BI (qwerty.co.id/qwerty.co.id)

Jakarta - Defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia pada kuartal III-2016 menyusut sebesar US$ 502 juta menjadi US$ 4,49 miliar, dibanding kuartal sebelumnya yang sebesar US$ 5,0 miliar. Dengan demikian, rasio CAD terhadap produk domestik bruto (PDB) pun turun dari 2,2% menjadi 1,83%.

Hal ini seiring meningkatnya surplus neraca perdagangan nonmigas menjadi US$ 5,25 miliar dari sebelumnya US$ 5,19 miliar karena penurunan impor (US$ 1,44 miliar) yang lebih besar dari penurunan ekspor (US$ 1,38 miliar). Selain itu, karena membaiknya defisit neraca perdagangan migas dari US$ 1,43 miliar menjadi US$ 1,31 miliar serta defisit neraca jasa dari US$ 2,19 miliar menjadi US$ 1,52 miliar, mengikuti surplus neraca jasa perjalanan yang meningkat.

Namun, perbaikan CAD masih tertahan oleh meningkatnya defisit neraca pendapatan primer yang meningkat menjadi US$ 7,91 miliar dari sebelumnya US$ 7,78 miliar dan menurunya surplus pendapatan sekunder dari US$ 1,22 miliar menjadi US$ 1,01 miliiar.

Di satu sisi, neraca transaksi modal dan finansial juga mencatatkan kenaikan surplus US$ 1,9 miliar menjadi US$ 9,41 miliar, terutama ditopang kenaikan investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) dan berkurangnya defisit investasi lainnya. Dengan demikian, neraca pembayaran pada kuartal III-2016 tercatat US$ 5,70 miliar, lebih baik dari posisi kuartal sebelumnya yang sebesar US$ 2,16 miliar.

ADVERTISEMENT

Kepala Departemen Statistik Bank Indonesia (BI) Hendy Sulistyowati mengatakan, di sisi neraca modal dan finansial, surplus FDI mencapai US$ 5,23 miliar, menguat dari kuartal sebelumnya yang US$ 2,20 miliar, terutama dipengaruhi neto penarikan utang korporasi antarafiliasi setelah pada kuartal sebelumnya mencatat neto pembayaran utang. Sementara penurunan defisit investasi lainnya didorong netto penarikan pinjaman luar negeri pemerintah dan neto penarikan simpanan penduduk di luar negeri.

"Sektor manufaktur, lain-lain (termasuk jasa dan properti) serta pertambangan menjadi sektor yang paling menarik PMA sepanjang kuartal III-2016, mencapai US$ 3,41 miliar atau 77,8% total PMA. Berdasarkan asal negaranya, FDI masih didominasi negara Asean, Jepang, dan emerging market lain termasuk Tiongkok. Ketiga kawasan ini melakukan investasi langsung hingga US$ 3,8 miliar atau 73% dari total FDI," kata dia, di Jakarta, Jumat (11/11).

Ditambahkan, surplus netto (aset dikurangi kewajiban) investasi portofolio sendiri mencapai US$ 6,49 miliar. Meski melambat dari kuartal sebelumnya yang US$ 8,27 miliar, namun tercatat investor asing masih meningkatkan net pembeliannya atas debt securities khususnya SUN dan saham. Tidak adanya penerbitan global bonds pemerintah membuat surplus neto investasi secara umum lebih rendah.

Pinjaman Luar Negeri
Sementara investasi lainnya mengalami penurunan defisit dari US$ 3,7 miliar menjadi US$ 2,3 miliar seiring neto penarikan pinjaman luar negeri pemerintah dan neto penarikan simpanan sektor swasta domestik, sisi aset di luar negeri.
Untuk kuartal-IV, dia memperkirakan defisit transaksi berjalan masih akan sedikit di bawah 2% dan 2,5% untuk keseluruhan 2016. Menurutnya, ini masih lebih baik ketimbang kondisi 2013 dimana kita mengalami defisit 3,19% PDB dan di 2014 defisit 3,09%.

"Kami ingin jaga sedikit di bawah 2,5% PDB, dan untuk saat ini masih aman. Kalau BoP yang negatif karena kita nggak mau utang (pinjaman modal kerja yang hanya diambil saat diperlukan), ya nggak jelek, tapi kalau karena capital outflow itu bahaya. Untuk kinerja perdagangan, berdasarkan data Oktober memang masih surplus, dan di November masih terus berjalan aktivitas ekonomi (ekspor-impor), namun di pekan ketiga Desember biasanya aktivitas ekspor sudah tidak ada," kata Hendy.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara melihat tren kenaikan neraca pembayaran masih akan berlanjut hingga akhir tahun seiring kondisi fundamental ekonomi yang masih baik. Dia menilai defisit transaksi berjalan di kisaran 1,8% PDB saat ini dan BoP yang mencapai US$ 5,7 miliar menunjukkan dalam kondisi yang sangat baik.

Ekonom Bank DBS Gundy Cahyadi melihat CAD yang menyempit ke level 1,83% menunjukkan kondisi yang lebih baik, namun FDI di satu sisi juga turun 1,2% PDB. Artinya, defisit CA masih sangat mengandalkan arus investasi portofolio. Sikap pasar pun masih meremehkan sinyal kenaikan FFR.









Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon