ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Pengembangan Energi Terbarukan Kesulitan Akses Pendanaan

Kamis, 28 Juni 2018 | 21:39 WIB
EH
B
Penulis: Euis Rita Hartati | Editor: B1
Pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia masih menemui banyak kendala. Salah satunya adalah masih sulitnya mendapatkan pinjaman dari perbankan. Pasalnya, sektor ini dinilai berisiko tinggi.Hal ini terungkap dalam diskusi  Weekly Forum bertajuk Sejahterakan Masyarakat Lewat Energi Baru dan Terbarukan, Bisakah? di Jakarta, Kamis (28/6) dengan pembicara Abadi Poernomo (Anggota Dewan Energi Nasional), Wahyu WInardi (Kepala Sub Direktorat PPN Industri), Harris (Direktur Aneka Energi Baru Terbarukan Direktorat EBTKE Kementerian ESDM), dan Sigit Reliantoro (Sekretaris Dirjen Pengendalian, Perencanaan, dan Kerusakan KLHK)
Pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia masih menemui banyak kendala. Salah satunya adalah masih sulitnya mendapatkan pinjaman dari perbankan. Pasalnya, sektor ini dinilai berisiko tinggi.Hal ini terungkap dalam diskusi Weekly Forum bertajuk Sejahterakan Masyarakat Lewat Energi Baru dan Terbarukan, Bisakah? di Jakarta, Kamis (28/6) dengan pembicara Abadi Poernomo (Anggota Dewan Energi Nasional), Wahyu WInardi (Kepala Sub Direktorat PPN Industri), Harris (Direktur Aneka Energi Baru Terbarukan Direktorat EBTKE Kementerian ESDM), dan Sigit Reliantoro (Sekretaris Dirjen Pengendalian, Perencanaan, dan Kerusakan KLHK) (istimewa)

Jakarta - Pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan pinjaman dari perbankan, karena dinilai memiliki risiko tinggi. Hal ini menjadi salah satu kendala dalam pengembangan EBT di Indonesia.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbariuan Kementerian ESDM Harris mengatakan bahwa karena dinilai berisiko, perusahaan yaang ingin mengakses pembiayaan dari bank lokal utuk pengebangan EBT selalu dikenakan beban biaya bunga tinggi.

"Ini terkait risiko, berapa rate yang diberikan tergantung risiko perusahaan tadi. Jadi itu masih sulit untuk diturunkan," kata Harris dalam diskusi Weekly Forum bertajuk Sejahterakan Masyarakat Lewat Energi Baru dan Terbarukan, Bisakah? di Jakarta, Kamis (28/6).

Padahal, kata Harris, pengembangan EBT dan pengembalian modalnya sebetulnya layak secara bisnis. Dia mencontihkan, pembangunan PLTS di Indonesia Timur. "Kontrak 20 tahun sebenarnya sudah bisa. Tapi bank lokal kita masih belum dengan proyek terbarukan dan konversi energi," katanya.

ADVERTISEMENT

Dia menambahkan, sebenarnya sudh cukup banyak lembaga pembiayaan dunia yang mau membantu pengembangan sektor ini seperti World Bandk Namun, kata Harris, agar efisien sebaiknya permintaan pembiayaan tidak datang satu-satu dari masing-masing perusahaan. "Jadi, kalau kembangkan EBT khusus skala kecil keekonomianya sulit, tapi kalau di-bundling bisa lebih ekonomi itu juga salah satu rekomendasi OJK," katanya.

Sementara itu, Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Humas Direktorat Pajak Wahyu Winardi mengakui bahwa pengembangan EBT memang membutuhkan dukungan fiskal. Apalagi, EBT memiliki peranan penting dalam upaya elektrifikasi nasional. "Salah satu masalah untuk kembangkan EBT terletak pada aspek fiskal dan non fiskal," kata Wahyu Winardi.

Lebih jauh Wahyu mengutarakan dukungan fiskal tersebut berbentuk bea masuk dibebaskan dan pajak. Hal ini, katanya, baru berlaku untuk Panas Bumi (Geothermal). Dia juga mengungkapkan diharapkan bahwa dengan adanya insentif fiskal maka harga EBT juga jadi kompetitif. Insentif EBT juga harus rasional seiring dengan insentif untuk Bahan Bakar Minyak (BBM).



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Transformasi Berkelanjutan Nyata, PLN Group Sabet 46 PROPER Emas dan Hijau 2025 KLH

Transformasi Berkelanjutan Nyata, PLN Group Sabet 46 PROPER Emas dan Hijau 2025 KLH

EKONOMI
Menakar Ketahanan Energi RI Saat Selat Hormuz Ditutup Iran

Menakar Ketahanan Energi RI Saat Selat Hormuz Ditutup Iran

EKONOMI
China Perkuat Jaringan Listrik untuk Serap Energi Baru hingga 2030

China Perkuat Jaringan Listrik untuk Serap Energi Baru hingga 2030

EKONOMI
Danantara dan PLN Percepat Investasi Energi Terbarukan

Danantara dan PLN Percepat Investasi Energi Terbarukan

EKONOMI
Pemerintah Jajaki Kerja Sama Ekonomi dengan Michael Bloomberg

Pemerintah Jajaki Kerja Sama Ekonomi dengan Michael Bloomberg

EKONOMI
REC Percepat Pengembalian Modal Investasi Pembangkit EBT

REC Percepat Pengembalian Modal Investasi Pembangkit EBT

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon