IOCE Mendorong Optimalisasi Energi Laut di Indonesia
Kamis, 15 November 2018 | 14:23 WIB
Jakarta - Pengembangan energi terbarukan di Indonesia berada di persimpangan jalan. Demikian halnya dengan energi laut dalam sepuluh tahun terakhir mengalami pasang surut. Untuk itu, Indonesia OTEC Centre of Excellence (IOCE) hadir untuk mendorong percepatan implementasi energi berbasis sumber daya kelautan.
Menurut Mukhtasor yang juga Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, sejauh ini aspek bisnis pada pengembangan energi laut belum memperoleh perhatian yang cukup. Padahal, sebagaimana keterangan tertulisnya, Indonesia mempunya potensi energi gelombang dan panas laut yang sangat besar.
"Untuk itu perlu langkah strategis dalam mempercepat implementasi energi laut," ujarnya di sela-sela Marine Technical Discussion Forum di Jakarta, Rabu (14/11).
Mantan anggota Dewan Energi Nasional (DEN) itu menegaskan bahwa energi gelombang laut bukan hanya energi yang terbarukan, namun juga energi yang baru dan potensial. Energi gelombang laut relatif lebih stabil dari pada energi angin, arus pasang surut, maupun surya.
"Semangat publik dan dunia usaha untuk mendorong pemanfaatan energi terbarukan cukup bagus. Ini perlu didorong dan difasilitasi Kementrian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM)," jelasnya.
Dikatakan, potensi energi panas laut Indonesia mencapai 41.000 MW dan belum diimplementasikan. Padahal, Indonesia menyimpan potensi energi panas laut terbesar di dunia dan relatif paling stabil.
Untuk itu, salah satu upaya dalam mempercepat aplikasi energi laut maka para pemangku kepentingan di Indonesia meluncurkan inisiatif pembentukan IOCE atau dikenal sebagai Indonesia OTEC Center. OTEC yang disingkat dari Ocean Thermal Energy Conversion adalah sistem pembangkit listrik bersumber dari panas laut, yang memanfaatkan perbedaan suhu air permukaan laut dengan suhu kedalaman kurang lebih 1000 meter di dalam air.
Dengan IOCE, pemanfaatan energi panas laut dapat didukung para pemangku kepentingan, dari unsur academic-bussiness-government (ABG). Hadir mewakili Kementrian ESDM adalah Yunus Saefulhak selaku Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian ESDM, dunia usaha, para peneliti dan pelaku usaha. Selain itu, hadir juga Ridwan Hisjam sebagai Wakil Ketua Komisi VII DPR.
Dikatakan, kerja sama para pemangku kepentingan ini diharapkan mengatasi stagnasi implementasi energi laut.
Ridwan Hisjam menegaskan agar energi dapat diperlakukan bukan sebagai komoditas belaka, namun sebagai modal pembangunan. Energi laut dapat mewujudkan peran sebagai modal pembangunan tersebut melalui peningkatan perekonomian, nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja.
Adapun para pemangku kepentingan lain yang hadir dalam deklarasi IOCE seperti Direktur Utama Biro Klasifikasi Indonesia Rudiyanto, perwakilan dari Masyarakat Energi Terbarukan (METI), kemudian wakil dari Pusat Teknologi Rekayasa Industri Maritim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), serta perwakilan Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Kementerian Koordinator Maritim Republik Indonesia. Sejumlah praktisi energi laut dan asosisasi terkait juga tampak hadir.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




