ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Pelaku Industri Apresiasi Terobosan Kemdag Jajaki Pasar India

Rabu, 27 Februari 2019 | 11:37 WIB
RS
FH
Penulis: Ridho Syukro | Editor: FER
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita pada acara Bincang Bisnis
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita pada acara Bincang Bisnis "Optimisme Perdagangan dan Ekonomi 2019" di Spazio Hall, Surabaya, Selasa (26/2). (Beritasatu Photo/Amrozi Amenan)

Jakarta, Beritasatu.com - Rencana pemerintah menjajaki potensi ekspor komoditi karet ke India, dinilai bisa meningkatkan volume perdagangan kedua negara.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), Moenardji Soedargo, mengatakan, pihaknya mendukung langkah Kementerian Perdagangan (Kemdag) yang terus mencari peluang pasar baru, dalam memasarkan produk karet domestik ke pasar internasional. Gapkindo siap melakukan sosialisasi lanjutan dan terus meningkatkan kualitas produk.

"Pengusaha karet siap mengejar peluang pasar yang baru. Gapkindo juga optimistis pasar India cocok dengan kualitas karet Indonesia yang tergolong baik. Ini merupakan kesempatan emas untuk mendorong ekspor karet ke India dan India pasar besar," ujar Moenardji dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, di Jakarta, Rabu (27/2/2019).

Moenardji mengatakan, India sebenarnya sudah menggunakan hasil karet Indonesia, meskipun dibeli melalui perusahaan dealer yang ada di Singapura.

ADVERTISEMENT

"Mereka belum secara langsung menjalin kontak dengan Indonesia, terkait impor kebutuhan karet. Karena itu, Indonesia harus mengambil peluang tersebut," kata Moenardji.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki), Joko Supriyono, ikut memberikan dukungan terhadap misi dagang pemerintah.

"Penurunan bea masuk produk turunan sawit yang diputuskan dalam misi dagang di India, bisa mendongkrak penjualan komoditas andalan Indonesia tersebut," kata Joko.

Joko berharap, penurunan tarif Bea Masuk tersebut benar-benar akan terealisasi. Pasalnya, dengan penurunan bea masuk tersebut, penjualan CPO ke India bisa kembali seperti pada tahun 2016 atau 2017. "Ekspor kita tahun 2016 dan 2017, mungkin bisa kembali lagi," tandas Jokow.

Untuk diketahui, pasca India menerbitkan kebijakan bea masuk hingga 50 persen untuk produk sawit Indonesia per-Maret 2018, ekspor sawit Indonesia ke India terus melorot. Data Gapki menunjukkan, ekspor CPO ke India pada 2016 mencapai 5,78 juta ton. Ekspor ini tumbuh 32% menjadi 7,63 juta ton pada 2017. Namun pada 2018 ekpor ke India turun 12,05 persen menjadi 6,71 juta ton.

Di sisi lain, harga karet alam tengah berada di level rendah sepanjang 2018 hingga awal 2019. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mendorong harga karet, salah satunya dengan menyerap karet petani untuk campuran aspal.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon