Januari, Utang Luar Negeri RI Naik 7,2% Tembus Rp 5.404 Triliun
Jumat, 15 Maret 2019 | 17:53 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Utang luar negeri Indonesia meningkat 7,2 persen secara tahunan pada akhir Januari 2019 menjadi US$ 383,3 miliar atau setara dengan Rp 5.404 triliun, berdasarkan asumsi kurs referensi Bank Sentral akhir Januari 2019.
Menurut Statistik Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia yang dilansir Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Jumat (15/3//2019) utang luar negeri Indonesia hingga akhir Januari 2019 itu terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar US$ 190,2 miliar dan utang swasta termasuk BUMN sebesar US$ 193,1 miliar. "Pertumbuhan ULN 7,2 persen (year on year/yoy) yang relatif stabil tersebut sejalan dengan peningkatan pertumbuhan ULN pemerintah di tengah perlambatan pertumbuhan ULN swasta," tulis BI dalam laporannya.
Adapun ULN pemerintah yang sebesar US$ 187,2 miliar atau tumbuh 3,7 persen (yoy) dipengaruhi arus masuk dana investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) selama Januari 2019. Aliran dana ke SBN itu, disebut BI, menunjukkan peningkatan kepercayaan investor asing terhadap kondisi perekonomian Indonesia.
Sektor-sektor prioritas yang dibiayai melalui utang luar negeri pemerintah antara lain sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial, sektor konstruksi, sektor jasa pendidikan, sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib, serta sektor jasa keuangan dan asuransi.
Sedangkan, utang luar negeri swasta melambat pada Januari 2019. Jumlah ULN swasta hanya meningkat US$ 1,5 miliar atau tumbuh 10,8 persen (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan Desember 2018 yang sebesar 11,5 persen (yoy). "Perlambatan tersebut terutama disebabkan pertumbuhan ULN sektor industri pengolahan dan sektor jasa keuangan dan asuransi yang melambat. Sementara itu, pertumbuhan ULN sektor pertambangan dan sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas (LGA) mengalami peningkatan dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya," tulis BI.
BI memandang struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat saat ini, yang terlihat dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di kisaran 36 persen. Rasio tersebut, menurut BI, masih berada di kisaran rata-rata negara dengan kapasitas ekonomi serupa (peers).
Di samping itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi ULN berjangka panjang yang memiliki pangsa 86,2 persen dari total ULN. "Bank Indonesia dan Pemerintah terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan ULN dan mengoptimalkan perannya dalam mendukung pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," ujar BI.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




