Pengembangan Transportasi Publik Dinilai Belum Jelas

Pengembangan Transportasi Publik Dinilai Belum Jelas
Ekonom sekaligus pendiri Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia, Hendri Saparini. ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Herman / FER Rabu, 12 Juni 2019 | 16:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ekonom sekaligus pendiri Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia, Hendri Saparini, menilai, Indonesia saat ini belum memiliki rencana pengembangan transportasi publik yang jelas. Belum terlihat fokus dari pengembangan moda transportasi yang ke depannya bisa menjadi andalan masyarakat, misalnya saja untuk perjalanan mudik.

"Pemerintah perlu mengkaji, sebenarnya transportasi publik yang akan dikembangkan oleh Indonesia itu transportasi publik yang mana? Kita saat ini masih gamang. Misalnya saja terkait ojek online, ini sebetulnya transportasi publik apa bukan? Kalau transportasi publik, lalu kenapa tidak safe dan tidak bisa jarak jauh?" kata Hendri Saparini dalam diskusi Core Economic Forum di Jakarta, Rabu (12/6/2019).

Dikatakan Hendri, Indonesia selama ini memang belum membangun transportasi publik. Yang ada sekarang ini adakah transportasi umum oleh private sektor seperti ojek online atau taksi online. Transportasi umum inilah yang saat ini sedang digandrungi masyarakat.

"Seharusnya makin tinggi kemajuan sebuah negara, makin tinggi pendapatan per kapitanya, maka trasportasi publik yang dipilih adalah yang paling aman. Untuk sepeda motor, di negara maju itu termasuk yang paling tidak aman. Makanya mereka memiliki regulasi yang sangat ketat. Untuk dapat SIM motor, itu jauh lebih sulit daripada SIM mobil. Tetapi di sini, hal itu terbalik," papar Hendri.

Bila pemerintah ke depan fokus pada pengembangan transportasi publik, nantinya pemudik tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi, tetapi lebih memilih naik transportasi publik yang nyaman dan aman.

"Tradisi mudik ini sebetulnaya banyak dilakukan di banyak negara. Kalau di negara maju, (saat mudik) mereka antre naik transportasi publik. Yang berpindah hanya orangnya saja. Sementara di Indonesia, yang berpindah itu orangnya dan juga kendaraannya seperti sepeda motor. Sebab transportasi pubik di daerah asal maupun di daerah tujuan memang belum terbangun," kata Hendri Saparini.

Selain membangun transportasi publik, Hendri menambahkan, perlu juga dipikirkan mana yang akan dibangun oleh pemerintah dan mana yang dibangun oleh pihak swasta. "Jangan sampai swasta sudah masuk dan tiba-tiba pemerintah ikut masuk juga, sehingga kemudian ini jadi bisnis yang merugikan," imbuh Hendri.

Satu hal  yang menjadi catatan Hendri selanjutnya adalah terkait angkutan barang yang juga perlu dikembangkan. Sebab, selama ini fasilitas untuk angkutan barang sering kalah dengan angkutan penumpang. Misalnya saja saat periode mudik Lebaran kemarin, di mana ada pembatasan bagi angkutan barang dengan sumbu tiga atau lebih untuk melintasi jalan tol Trans Jawa ruas Semarang-Jakarta. Sementara di luar negeri, jalan tol justru digunakan untuk transportasi angkutan barang.

"Transportasi barang ini mau dilewatin di mana? Jalan tol atau kereta api? Jadi harus dibangun bersama-sama sistem transportasinya untuk orang dan juga untuk barang. Jangan sampai nantinya yang angkutan barang di korbankan," pungkas Hendri.



Sumber: BeritaSatu.com