ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kuartal III, Laba BNI Naik Tembus Rp 12 Triliun

Rabu, 23 Oktober 2019 | 17:16 WIB
LO
WP
Penulis: Lona Olavia | Editor: WBP
Ilustrasi BNI
Ilustrasi BNI (Beritasatu.com)

Jakarta, Beritasatu.com - Laba bersih PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) hingga kuartal III 2019 mencapai Rp 12 triliun atau tumbuh 4,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kecilnya kenaikan laba dibanding periode sebelumnya seiring meningkatnya cost of fund dan menurunnya net interest margin (NIM).

Direktur Keuangan BNI Ario Bimo mengatakan, menurunnya NIM karena ketatnya likuiditas di pasar, bahkan perbankan pun perlu bersaing ketat dengan pemerintah yang menerbitkan surat utang. Apalagi pemerintah juga berhati-hati dalam pengeluaran. "Ke depan kami akan fokus ke perbaikan cost of fund dan NIM akan jadi prioritas. Prospek fee based income terbesar dari recurring fee yang transaksi rutin seperti kredit sindikasi," kata Ario Bimo dalam paparan kinerja, di Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Dari sisi penyaluran kredit, BNI mampu mencatat pertumbuhan 14,7 persen mencapai Rp 558,7 triliun. "Pencapaian ini sekaligus menandai stabilnya percepatan fungsi intermediasi di tengah kondisi perekonomian yang menantang," kata Ario Bimo.

Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta menyampaikan target pertumbuhan kredit hingga akhir 2019 adalah sebesar 13 persen-14 persen, seiring penyesuaian pertumbuhan industri perbankan tahun ini. Lalu dana pihak ketiga (DPK) perseroan ditargetkan tumbuh di 8-10 persen.

ADVERTISEMENT

Sementara Direktur Bisnis Korporasi BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, pada kuartal IV ini perseroan masih memiliki pipeline kredit antara lain kelistrikan di 35.000 MW, Toll Road Jateng II, Jakarta-Cikampek Elevated. Sedangkan di sisi noninfrastruktur ada manufaktur, farmasi dan logistik. "Pertumbuhan kredit amat besar di korporasi tumbuh 18 persen, tapi di akhir tahun masih kami jaga di kisaran 13 persen-15 persen," sebut Wahju Setyawan.

Penyaluran kredit di kuartal III tersebut didukung oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 5,9 persen yang mengantarkan BNI mencatatkan perbaikan net interest income (NII) menjadi Rp 26,9 triliun. Begitu juga dengan non interest income atau fee based income (FBI), yang pada kuartal III 2019 tumbuh sebesar 13 persen YoY, menjadi Rp 8,1 triliun. Dengan dukungan pertumbuhan NII dan FBI, BNI mampu mencatatkan laba bersih senilai Rp 12 triliun.

Pendapatan fee BNI, ditopang pertumbuhan recurring fee sebesar 17,1 persen YoY menjadi Rp 7,9 triliun. Kenaikan FBI pada kuartal III-2019 ini didorong fee dari segmen business banking, antara lain trade finance yang tumbuh 9,4 persen dan fee sindikasi yang tumbuh 81,6 persen. Adapun, sumber fee dari bisnis konsumer antara lain berasal fee pengelolaan kartu debit yang tumbuh 57,5 persen dan fee transaksi melalui ATM yang tumbuh 16,5 persen.

Ario menyebutkan, pertumbuhan kredit BNI didorong pembiayaan segmen korporasi yang tumbuh 18,1 persen dari periode yang sama tahun 2018 menjadi Rp 291,7 triliun yang terdistribusi ke segmen korporasi swasta sebesar Rp 181,1 triliun, atau tumbuh 24,8 persen dibanding kuartal III-2018, dan pada BUMN senilai Rp 110,7 triliun atau mengalami pertumbuhan 8,6 persen dibanding kuartal III-2018. Segmen usaha kecil juga memberikan kontribusi pertumbuhan sebesar 19,2 persen dibandingkan kuartal III-2018, menjadi Rp 75 triliun.

Sementara, pertumbuhan kredit di segmen menengah yang dijaga di level moderat sebesar 3,8 persen dibanding kuartal III tahun lalu, juga menunjukkan komitmen perbaikan kualitas aset dimaksud.

Adapun pada segmen konsumer, BNI mencatatkan kredit payroll masih sebagai kontributor utama pertumbuhan bisnis konsumer, dengan tumbuh 13,1 persen YoY. Perluasan kredit payroll dilakukan BNI dengan memokuskan diri pada pemberian kredit pada karyawan institusi pemerintah dan BUMN, dimana hingga September 2019, kredit payroll kepada karyawan BUMN dan pemerintahan memberikan kontribusi sekitar 64,4 persen dari total kredit payroll.

Selain kredit payroll, BNI juga terus fokus menumbuhkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Pada September 2019, BNI mencatatkan pertumbuhan KPR 9,5 persen secara YoY atau mencapai Rp 43,1 triliun.

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) BNI tercatat membaik menjadi 1,8 persen pada kuartal III-2019 dari periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 2 persen. Credit cost juga menunjukkan perbaikan, yaitu turun dari 1,4 persen menjadi 1,3 persen, sementara coverage ratio terus meningkat dari 152 persen menjadi 159 persen.

Penyaluran kredit BNI ditopang pertumbuhan DPK sebesar 5,9 persen secara YoY, menjadi Rp 581 triliun. Di mana, BNI menjaga rasio dana murah yang ditunjukkan dari komposisi CASA yang mencapai 64,3 persen dari total DPK, terutama karena pertumbuhan giro sebesar 13 persen dan tabungan 7,5 persen YoY.

Lebih lanjut, ia menyampaikan, keberhasilan dalam upaya menghimpun dana murah juga tercermin dari penambahan jumlah rekening individu menjadi sebanyak 46,5 juta. Selain itu, BNI juga terus meningkatkan jumlah branchless banking dari 111.836 pada akhir tahun 2018 menjadi 130.803 Agen46 pada kuartal III 2019.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

BNI Catat Laba Rp 15,12 Triliun pada Kuartal III 2025

BNI Catat Laba Rp 15,12 Triliun pada Kuartal III 2025

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon