Teknologi UHT Jamin Kualitas Santan Kelapa dalam Kemasan
Jumat, 15 November 2019 | 12:37 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Santan kelapa dalam kemasan semakin banyak diminati masyarakat Indonesia. Produksi santan kelapa melalui proses ultra high temperature (UHT) dan kemasan aseptik menjamin kualitas dan rasa dari santan kelapa tetap terjaga.
Demikian salah satu pembahasan dalam diskusi yang digelar perusahaan pengemasan makanan dan minuman Tetra Pak di Jakarta, Kamis (14/11/2019). Acara tersebut menghadirkan beberapa pihak yang terkait dalam produksi dan pengemasan santan kelapa, seperti Martin Jimi selaku Direktur PT Kara Santan Pertama, Azis Sitanggang yang juga pengajar Ilmu dan Teknologi Pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Fatmah Bahalwan selaku pendiri Natural Cooking Club dan Panji Cakrasantana sebagai Marketing Manager Tetra Pak Indonesia.
Martin menjelaskan proses mengenalkan santan kelapa dalam kemasan membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal itu diakuinya karena sebagian besar masyarakat santan dalam kemasan menggunakan bahan pengawet. "Awalnya tidak mudah karena sebagian besar masyarakat Indonesia terbiasa dengan santan yang diproduksi langsung dari pasar tradisional. Jadi kalau santan dalam kemasan dianggap menggunakan bahan pengawet," ujarnya.
Padahal, lanjut dia, pihaknya bersama Tetra Pak yang melakukan kemasan santan kelapa sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet.
Panji Cakrasantana menjelaskan bahwa produksi santan kemasan dari Tetra Pak sudah terjamin kualitasnya karena melalui proses ultra high temperature (UHT) dan memakai kemasan aseptik. Rasa dan nutrisi melalui teknologi UHT dan kemasan aseptik tetap terjaga. Teknologi UHT yang memanaskan produk santan kelapa kemasan pada 140 derajat Celcius dalam waktu 8-15 detik sehingga kondisi sterilitas komersial telah tercapai.
"Produk yang sudah melalui proses UHT bertemu dengan kemasan aseptik yang sudah disterilkan dalam 1 lingkungan aseptik, itulah kenapa umur simpan produk kemasan aseptik panjang dan tidak perlu pengawet," tambahnya.
Azis Sitanggang menambahkan dengan teknologi UHT dan aseptik maka tidak ada lagi pemanfaatan bahan pengawet. Teknologi UHT membuat mikroba target berupa Clostridum botulinum dan mikroorganisme patogen maupun pembusuk yang terdapat dalam produk tersebut telah dimusnahkan.
"Implikasi dari proses ini adalah produk dapat bertahan lebih lama jika disimpan pada suhu ruang dan waktu proses yang relatif cepat dapat menjaga nutrisi dan rasa alami dari santan kelapa tersebut," jelasnya.
Di sisi lain, lanjut dia, pada tahun 2016 Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mempunyai aturan terkait steril komersial. "Jadi kalau santan ini termasuk pangan steril komersial. Artinya, sudah ada tata aturan bagaimana suatu pangan steril komersial harus diproses. Jadi santan mengalami proses yang namanya sterilisasi," jelasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




