Serapan dan Surplus Gabah Naik, Pemerintah Malah Impor Beras
Minggu, 22 Juli 2012 | 13:40 WIB
Di saat Kementerian Pertanian berjibaku untuk meningkatkan produksi dan Bulog berusaha melakukan serapan gabah petani dengan optimal
Rencana Pemerintah melakukan importasi beras dalam waktu dekat merupakan bukti ketidakberpihakan terhadap komoditas pangan lokal. Itu ironis di saat produksi beras surplus dan serapan Badan urusan logistik (Bulog) optimal.
Kebijakan ini menunjukan bahwa Pemerintah tidak memiliki itikad baik dalam mendukung swasembada beras berkelanjutan hingga tahun 2014.
“Di saat Kementerian Pertanian berjibaku untuk meningkatkan produksi dan Bulog berusaha melakukan serapan gabah petani dengan optimal, Kementerian Perdagangan malah tidak menunjukan keberpihakan dengan berencana melakukan importasi beras,” kata Anggota Komisi IV DPR RI Makmur Hasanudin di Jakarta, hari ini.
Pengadaan beras pada 2012, hingga bulan Juli mencapai angka 2,5 juta ton dan ditargetkan hingga akhir tahun mencapai target 3 juta ton.
Pengadaan beras tahun lalu, hanya mencapai 1,8 juta ton. Menteri Koordinasi Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan (19/7) menyatakan bahwa, pemerintah masih membuka keran impor beras 1 juta ton untuk memenuhi cadangan beras nasional dan menjaga ketersediaan beras di masyarakat.
“Pemerintah sering sekali tidak peka dalam memahami kondisi yang berkembang, seharusnya di saat produksi dan serapan bagus seperti sekarang ini seharusnya memberikan penguatan serta proteksi yang maksimal terhadap beras nasional. Dengan wacana impor akan meruntuhkan semangat dan perjuangan rekan-rekan petani,” papar Makmur.
Dia menilai, Kementerian Koordinator Ekonomi (Menkoekuin) seharusnya mampu menangkap dengan baik situasi dan kondisi seperti itu, bukan malah memberikan wacana ketidakpastian dengan adanya importasi beras. Selain itu, seharusnya Menkoekuin mampu mengkoordinasikan dengan baik data serta capaian yang telah dilakukan selama ini oleh Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan maupun Bulog sebagai stabilisator.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional selama 2012 diramalkan naik 4,3 persen sehingga terjadi surplus 5 juta ton. Hingga saat ini, Bulog sudah menyerap beras sebanyak 2,5 juta ton, atau 50% dari surplus itu sudah dikuasai oleh Bulog. Sedangkan persediaan beras selama Ramadhan dan Idul Fitri, Bulog mengklaim sudah ada stok beras sebanyak 468 ribu ton.
”Kebijakan melakukan impor disaat produksi dan serapan tinggi sesungguhnya menunjukan adanya koordinasi yang lemah dan ketidakberpihakan pangan di lingkungan Kementerian koordinator perekonomian, “ tutur dia.
Kementerian Pertanian menargetkan produksi beras pada 2012 mencapai 41 juta ton atau setara 74,1 juta ton gabah kering giling. Angka itu naik 7,9 persen dari target produksi beras tahun ini yang diperkirakan 38 juta ton atau setara 70,6 juta ton gabah kering giling (GKG). Kenaikan produksi dilakukan sebagai upaya mengejar target swasembada di pada 2014 dan surplus beras 10 juta ton dalam lima sampai sepuluh tahun mendatang. Untuk itu, Kementerian Pertanian mendapat dana subsidi pangan Rp 41,9 triliun.
Rencana Pemerintah melakukan importasi beras dalam waktu dekat merupakan bukti ketidakberpihakan terhadap komoditas pangan lokal. Itu ironis di saat produksi beras surplus dan serapan Badan urusan logistik (Bulog) optimal.
Kebijakan ini menunjukan bahwa Pemerintah tidak memiliki itikad baik dalam mendukung swasembada beras berkelanjutan hingga tahun 2014.
“Di saat Kementerian Pertanian berjibaku untuk meningkatkan produksi dan Bulog berusaha melakukan serapan gabah petani dengan optimal, Kementerian Perdagangan malah tidak menunjukan keberpihakan dengan berencana melakukan importasi beras,” kata Anggota Komisi IV DPR RI Makmur Hasanudin di Jakarta, hari ini.
Pengadaan beras pada 2012, hingga bulan Juli mencapai angka 2,5 juta ton dan ditargetkan hingga akhir tahun mencapai target 3 juta ton.
Pengadaan beras tahun lalu, hanya mencapai 1,8 juta ton. Menteri Koordinasi Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan (19/7) menyatakan bahwa, pemerintah masih membuka keran impor beras 1 juta ton untuk memenuhi cadangan beras nasional dan menjaga ketersediaan beras di masyarakat.
“Pemerintah sering sekali tidak peka dalam memahami kondisi yang berkembang, seharusnya di saat produksi dan serapan bagus seperti sekarang ini seharusnya memberikan penguatan serta proteksi yang maksimal terhadap beras nasional. Dengan wacana impor akan meruntuhkan semangat dan perjuangan rekan-rekan petani,” papar Makmur.
Dia menilai, Kementerian Koordinator Ekonomi (Menkoekuin) seharusnya mampu menangkap dengan baik situasi dan kondisi seperti itu, bukan malah memberikan wacana ketidakpastian dengan adanya importasi beras. Selain itu, seharusnya Menkoekuin mampu mengkoordinasikan dengan baik data serta capaian yang telah dilakukan selama ini oleh Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan maupun Bulog sebagai stabilisator.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional selama 2012 diramalkan naik 4,3 persen sehingga terjadi surplus 5 juta ton. Hingga saat ini, Bulog sudah menyerap beras sebanyak 2,5 juta ton, atau 50% dari surplus itu sudah dikuasai oleh Bulog. Sedangkan persediaan beras selama Ramadhan dan Idul Fitri, Bulog mengklaim sudah ada stok beras sebanyak 468 ribu ton.
”Kebijakan melakukan impor disaat produksi dan serapan tinggi sesungguhnya menunjukan adanya koordinasi yang lemah dan ketidakberpihakan pangan di lingkungan Kementerian koordinator perekonomian, “ tutur dia.
Kementerian Pertanian menargetkan produksi beras pada 2012 mencapai 41 juta ton atau setara 74,1 juta ton gabah kering giling. Angka itu naik 7,9 persen dari target produksi beras tahun ini yang diperkirakan 38 juta ton atau setara 70,6 juta ton gabah kering giling (GKG). Kenaikan produksi dilakukan sebagai upaya mengejar target swasembada di pada 2014 dan surplus beras 10 juta ton dalam lima sampai sepuluh tahun mendatang. Untuk itu, Kementerian Pertanian mendapat dana subsidi pangan Rp 41,9 triliun.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
INTERNASIONAL
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




