Imbas Pandemi, Konsumen Tahan Diri Beli Properti

Imbas Pandemi, Konsumen Tahan Diri Beli Properti
Ilustrasi Perumahan. (Foto: Beritasatu Photo / Uthan A Rachim)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Selasa, 14 Juli 2020 | 20:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – 2020 sebelumnya diharapkan menjadi tahun kebangkitan sektor properti di Indonesia. Apalagi setelah selesainya tahapan politik nasional serta sejumlah kebijakan perbankan. Namun optimisme tersebut harus tertahan akibat pandemi Covid-19.

Country Manager Rumah.com Marine Novita mengatakan berdasarkan hasil survei Rumah.com Consumer Sentiment Study H2 2020, secara umum 60 persen responden menyatakan menunda pembelian properti. "Dari 60 persen responden tersebut, pemilik rumah cenderung menunda transaksi properti sebesar 70 persen, dibandingkan mereka yang masih menyewa (50 persen) atau yang masih tinggal dengan orang tua (53 persen),” jelas dia dalam keterangan tertulisnya Selasa (14/7/2020).

Rumah.com Consumer Sentiment Study adalah survei berkala hasil kerja sama dengan lembaga riset Intuit Research, Singapura. Hasil survei kali ini diperoleh berdasarkan 1.007 responden dari seluruh Indonesia yang dilakukan pada bulan Januari hingga Juni 2020.

Baca juga: Ini Tips Investasi Properti di Masa Pandemi Covid-19

Selain 60 persen responden menunda pembelian properti, temuan lain Rumah.com Consumer Sentiment Study H2 2020 menyebut 45 persen responden mengalami kesulitan melihat properti yang akan dibeli, 40 persen responden menghindari membeli properti di perumahan yang penghuninya dinyatakan positif Covid-19, sedangkan 33 persen responden mengalami kesulitan atau keterlambatan dalam mendapatkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Meski kondisi ekonomi sangat terasa dampak pandemi, namun 60 persen responden memiliki intensi melanjutkan rencana pembelian hunian untuk ditinggali sendiri, baik di tahun 2020 ini maupun tahun 2021. Sementara mereka yang membeli properti untuk investasi hanya 39 persen responden yang masih terus melanjutkan pembeliannya.

Situasi pandemi Covid-19 yang memaksa masyarakat lebih banyak di rumah meningkatnya intensi memiliki hunian sendiri. Hal ini dinyatakan 34 persen responden, sementara 25 persen responden berminat merenovasi atau menggunakan kembali area tertentu di rumah mereka. Sedangkan 11 persen responden berpikir pindah dari hunian mereka yang sekarang.

Keinginan memiliki hunian sendiri di saat harus lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, mayoritas dinyatakan generasi milenial maupun generasi Z. Jika dilihat dari segi usia responden, mereka dari kelompok usia 22-29 tahun, 44 persen ingin memiliki rumah sendiri, kelompok usia 30-39 tahun sebanyak 36 persen responden, kelompok usia 40-49 tahun sebesar 27 persen responden dan kelompok usia 50-59 tahun hanya sejumlah 16 persen responden yang ingin memiliki rumah sendiri.

Menurut Marine pandemi Covid-19 yang disertai pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah mempengaruhi bagaimana pencari rumah mendapatkan informasi tentang hunian yang dibeli. Sebanyak 73 persen memilih menggunakan platform media sosial, dan 58 persen responden melalui portal properti daring serta 23 persen responden memanfaatkan tur virtual maupun video dari properti yang diincar.

Sedangkan informasi tentang hunian yang akan dibeli secara umum masih sama dengan survei pada periode sebelumnya dimana informasi utama yang ingin dicari adalah 91 persen responden ingin mengetahui tentang harga properti, 82 persen responden menanyakan tentang lokasi properti dan 76 persen responden mencari tahu tentang proses dan dokumen legalnya.

Menurut Marine, saat ini yang paling penting dilakukan adalah mempelajari dulu proses pembelian rumah, membandingkan suku bunga KPR dari berbagai bank penyedia, dan mempersiapkan keuangan pribadi agar sudah siap secara finansial ketika mengambil KPR. Berbagai hal tersebut bisa didapatkan dengan mengakses portal properti sebagai informasi dasar dalam pencarian properti.



Sumber: BeritaSatu.com