Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Masih Belum Sehat
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Masih Belum Sehat

Senin, 16 November 2020 | 15:52 WIB
Oleh : Herman / JAI

Jakarta, Beritasatu.com - Neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2020 kembali mengalami surplus sebesar US$ 3,61 miliar. Menurut ekonom, surplus neraca perdagangan Indonesia masih belum sehat, sebab lebih disebabkan oleh penurunan impor yang cukup tajam, terutama impor bahan baku/penolong dan barang modal.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia pada Oktober 2020 mencapai US$ 14,39 miliar atau meningkat 3,09% dibanding ekspor September 2020. Sementara dibanding Oktober 2019 menurun 3,29%.

Sedangkan untuk nilai impor pada Oktober 2020 mencapai US$ 10,78 miliar atau turun 6,79% dibandingkan September 2020, dan jika dibandingkan Oktober 2019 turun sebesar 26,93%.

“Kinerja perdagangan belum 100% pulih. Kita masih melihat penurunan impor yang memang masih didorong oleh pelemahan produksi industri domestik. Sementara dari segi ekspor, ada penurunan pertumbuhan secara year-on-year, khususnya ekspor dari produk industri,” kata ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio Nugroho, di Jakarta, Senin (16/11/2020)

Andry memprediksi perdagangan Indonesia baru akan pulih pada awal 2021. “Sekarang kita bisa saja mengandalkan pasar ekspor, namun terbatas. Tiongkok memang sudah pulih. Sebetulnya ini harapan kita,” kata Andry.

Menurut ekonom Indef lainnya, Ahmad Heri Firdaus, surplus neraca perdagangan sebetulnya baru bisa dikatakan baik apabila kinerja ekspor dan impor sama-sama meningkat, namun peningkatannya lebih tinggi ekspor. Sementara itu dalam beberapa bulan di tahun 2020, impornya justru mengalami penurunan yang cukup dalam, terutama impor bahan baku/penolong industri dan impor barang modal.

Pandangan yang sama juga disampaikan ekonom yang juga Staf Ahli Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ryan Kiryanto. Ia juga melihat surplus neraca perdagangan ini lebih dipicu oleh turunnya impor.

“Anjloknya impor, terutama golongan mesin dan perlengkapan elektronika, juga barang konsumsi dan bahan baku/penolong, mengindikasikan belum kuatnya produksi manufaktur di dalam negeri sebagai dampak pandemi,” kata Ryan.

Sedangkan untuk kinerja ekspor, jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu, posisinya relatif sama atau hanya turun tipis, mengindikasikan permintaan ekspor dari Indonesia masih relatif stabil karena negara-negara mitra dagang sudah membuka perekonomiannya.

Kinerja Ekspor

Mengenai kinerja perdagangan Indonesia pada Oktober 2020 secara keseluruhan, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Setianto memaparkan, untuk ekspor nonmigas Oktober 2020 nilainya mencapai US$ 13,76 miliar, naik 3,54% dibanding September 2020. Sementara itu jika dibanding Oktober 2019 mengalami penurunan 1,84%.

Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Oktober 2020 terhadap September 2020 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$ 188,1 juta (10,96%), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada logam mulia, perhiasan/permata sebesar US$ 150,0 juta (20,34%).

"Ekspor nonmigas Oktober 2020 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$ 2,86 miliar, disusul Amerika Serikat US$ 1,64 miliar dan Jepang US$ 1,06 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 40,42%. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$ 1,15 miliar," terang Setianto.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-Oktober 2020 mencapai US$ 131,54 miliar atau menurun 5,58% dibanding periode yang sama tahun 2019, sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$ 125,00 miliar atau menurun 3,62%.

Sementara itu untuk impor nonmigas Oktober 2020 mencapai US$ 9,70 miliar atau turun 6,65% dibandingkan September 2020 dan turun 25,36% dibandingkan Oktober 2019. Sedangkan impor migas senilai US$ 1,08 miliar atau turun 8,03% dibandingkan September 2020. Demikian pula jika dibandingkan Oktober 2019 turun 38,54%.

Setianto menyampaikan, penurunan impor nonmigas terbesar Oktober 2020 dibandingkan September 2020 adalah golongan mesin dan perlengkapan elektrik senilai US$ 200,9 juta (11,90%), sedangkan peningkatan terbesar adalah golongan bijih, terak, dan abu logam senilai US$ 36,5 juta (74,28%).

Menurut penggunaan barang, jika dibandingkan dengan September 2020, terjadi penurunan pada seluruh golongan barang, antara lain barang konsumsi turun 7,58%, bahan baku/penolong turun 5,00%, dan barang modal turun 13,33%. Apabila dibandingkan dengan Oktober 2019, penurunannya jauh lebih dalam. Misalnya untuk barang konsumsi turun 27,88%, bahan baku/penolong turun 27,40%, dan barang modal turun 24,24%.

"Secara kumulatif, nilai impor Januari–Oktober 2020 tercatat US$ 114.46 miliar atau turun US$ 26.96 miliar (19,07%) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," jelas Setianto.

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Oktober 2020 adalah Tiongkok senilai US$ 31,02 miliar (30,18%), Jepang US$ 8,81 miliar (8,57%), dan Singapura US$ 6,74 miliar (6,56%). Impor nonmigas dari ASEAN senilai US$ 19,25 miliar (18,73%) dan Uni Eropa senilai US$ 8,17 miliar (7,95%).

Jika ditotal selama periode Januari-Oktober 2020, neraca perdagangan Indonesia juga masih surplus US$ 17,07 miliar. Capaian ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun lalu yang mengalami defisit US$ 2,11 miliar.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Wapres Harapkan BMT Dorong UMKM Gerakkan Ekonomi Nasional

Wakil Presiden (Wapres), KH Ma'ruf Amin, berharap ribuan lembaga keuangan Baitu Al-Maal Wa Al-Tamil (BMT) dapat menjadi pendorong UMKM.

EKONOMI | 16 November 2020

Jaminan Kehilangan Pekerjaan Diatur di PP UU Cipta Kerja

Pemerintah memastikan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) bagi pekerja diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) turunan dari Undang-Undang (UU) Cipta Kerja.

EKONOMI | 16 November 2020

Kuartal IV, Pasar Modal Indonesia Makin Menarik

Secara fundamental pasar saham Indonesia semakin menarik pada kuartal IV 2020, ditopang oleh pemulihan earnings, stabilitas makro ekonomi, dan valuasi.

EKONOMI | 16 November 2020

Aturan Turunan UU Cipta Kerja Ditargetkan Rampung Pekan Ini

Pemerintah menargetkan peraturan pelaksanaan turunan Undang-Undang Cipta Kerja selesai pada pekan ini atau paling lambat 20 November 2020.

EKONOMI | 16 November 2020

Kapitalisasi Saham Syariah Tembus Rp 3.061 Triliun

Nilai kapitalisasi saham syariah berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 27 Oktober 2020 telah mencapai Rp 3.061,6 triliun.

EKONOMI | 16 November 2020

Siang Ini Rupiah Terapresiasi Sejalan Mata Uang Asia

Transaksi rupiah pagi ini diperdagangkan dalam kisaran Rp 14.117-Rp 14.130 per dolar AS.

EKONOMI | 16 November 2020

Oktober, Upah Nominal Harian Buruh Tani Naik 0,09%

Upah nominal buruh/pekerja adalah rata-rata upah harian yang diterima buruh sebagai balas jasa pekerjaan yang telah dilakukan.

EKONOMI | 16 November 2020

Mayoritas Bursa Asia Siang Ini di Zona Positif

Indeks Hang Seng di Hong Kong naik 110,9 (0,42%) mencapai 26.267.

EKONOMI | 16 November 2020

Terbesar di 2020, Neraca Perdagangan Oktober Surplus US$ 3,61 Miliar

Realisasi tersebut jauh lebih tinggi dari surplus US$ 2,44 miliar pada September 2020 dan surplus US$ 161 juta pada Oktober 2019.

EKONOMI | 16 November 2020

IHSG Naik 13 Poin ke 5.474 di Sesi Siang

Volume perdagangan hingga sesi siang ini tercatat sebanyak 77.009 miliar saham senilai Rp 5,721 triliun.

EKONOMI | 16 November 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS