Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Masih Belum Sehat
Senin, 16 November 2020 | 15:52 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2020 kembali mengalami surplus sebesar US$ 3,61 miliar. Menurut ekonom, surplus neraca perdagangan Indonesia masih belum sehat, sebab lebih disebabkan oleh penurunan impor yang cukup tajam, terutama impor bahan baku/penolong dan barang modal.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia pada Oktober 2020 mencapai US$ 14,39 miliar atau meningkat 3,09% dibanding ekspor September 2020. Sementara dibanding Oktober 2019 menurun 3,29%.
Sedangkan untuk nilai impor pada Oktober 2020 mencapai US$ 10,78 miliar atau turun 6,79% dibandingkan September 2020, dan jika dibandingkan Oktober 2019 turun sebesar 26,93%.
"Kinerja perdagangan belum 100% pulih. Kita masih melihat penurunan impor yang memang masih didorong oleh pelemahan produksi industri domestik. Sementara dari segi ekspor, ada penurunan pertumbuhan secara year-on-year, khususnya ekspor dari produk industri," kata ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio Nugroho, di Jakarta, Senin (16/11/2020)
Andry memprediksi perdagangan Indonesia baru akan pulih pada awal 2021. "Sekarang kita bisa saja mengandalkan pasar ekspor, namun terbatas. Tiongkok memang sudah pulih. Sebetulnya ini harapan kita," kata Andry.
Menurut ekonom Indef lainnya, Ahmad Heri Firdaus, surplus neraca perdagangan sebetulnya baru bisa dikatakan baik apabila kinerja ekspor dan impor sama-sama meningkat, namun peningkatannya lebih tinggi ekspor. Sementara itu dalam beberapa bulan di tahun 2020, impornya justru mengalami penurunan yang cukup dalam, terutama impor bahan baku/penolong industri dan impor barang modal.
Pandangan yang sama juga disampaikan ekonom yang juga Staf Ahli Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ryan Kiryanto. Ia juga melihat surplus neraca perdagangan ini lebih dipicu oleh turunnya impor.
"Anjloknya impor, terutama golongan mesin dan perlengkapan elektronika, juga barang konsumsi dan bahan baku/penolong, mengindikasikan belum kuatnya produksi manufaktur di dalam negeri sebagai dampak pandemi," kata Ryan.
Sedangkan untuk kinerja ekspor, jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu, posisinya relatif sama atau hanya turun tipis, mengindikasikan permintaan ekspor dari Indonesia masih relatif stabil karena negara-negara mitra dagang sudah membuka perekonomiannya.
Kinerja Ekspor
Mengenai kinerja perdagangan Indonesia pada Oktober 2020 secara keseluruhan, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Setianto memaparkan, untuk ekspor nonmigas Oktober 2020 nilainya mencapai US$ 13,76 miliar, naik 3,54% dibanding September 2020. Sementara itu jika dibanding Oktober 2019 mengalami penurunan 1,84%.
Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Oktober 2020 terhadap September 2020 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$ 188,1 juta (10,96%), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada logam mulia, perhiasan/permata sebesar US$ 150,0 juta (20,34%).
"Ekspor nonmigas Oktober 2020 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$ 2,86 miliar, disusul Amerika Serikat US$ 1,64 miliar dan Jepang US$ 1,06 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 40,42%. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$ 1,15 miliar," terang Setianto.
Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-Oktober 2020 mencapai US$ 131,54 miliar atau menurun 5,58% dibanding periode yang sama tahun 2019, sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$ 125,00 miliar atau menurun 3,62%.
Sementara itu untuk impor nonmigas Oktober 2020 mencapai US$ 9,70 miliar atau turun 6,65% dibandingkan September 2020 dan turun 25,36% dibandingkan Oktober 2019. Sedangkan impor migas senilai US$ 1,08 miliar atau turun 8,03% dibandingkan September 2020. Demikian pula jika dibandingkan Oktober 2019 turun 38,54%.
Setianto menyampaikan, penurunan impor nonmigas terbesar Oktober 2020 dibandingkan September 2020 adalah golongan mesin dan perlengkapan elektrik senilai US$ 200,9 juta (11,90%), sedangkan peningkatan terbesar adalah golongan bijih, terak, dan abu logam senilai US$ 36,5 juta (74,28%).
Menurut penggunaan barang, jika dibandingkan dengan September 2020, terjadi penurunan pada seluruh golongan barang, antara lain barang konsumsi turun 7,58%, bahan baku/penolong turun 5,00%, dan barang modal turun 13,33%. Apabila dibandingkan dengan Oktober 2019, penurunannya jauh lebih dalam. Misalnya untuk barang konsumsi turun 27,88%, bahan baku/penolong turun 27,40%, dan barang modal turun 24,24%.
"Secara kumulatif, nilai impor Januari–Oktober 2020 tercatat US$ 114.46 miliar atau turun US$ 26.96 miliar (19,07%) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," jelas Setianto.
Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Oktober 2020 adalah Tiongkok senilai US$ 31,02 miliar (30,18%), Jepang US$ 8,81 miliar (8,57%), dan Singapura US$ 6,74 miliar (6,56%). Impor nonmigas dari ASEAN senilai US$ 19,25 miliar (18,73%) dan Uni Eropa senilai US$ 8,17 miliar (7,95%).
Jika ditotal selama periode Januari-Oktober 2020, neraca perdagangan Indonesia juga masih surplus US$ 17,07 miliar. Capaian ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun lalu yang mengalami defisit US$ 2,11 miliar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




