RI Siap Tangkap Peluang untuk Pulihkan Ekonomi di 2021
Selasa, 22 Desember 2020 | 12:46 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah telah mempersiapkan berbagai langkah mendasar termasuk reformasi struktural yang akan dimulai di awal 2021. Langkah itu diambil untuk menangkap sejumlah peluang yang akan menjadi pengungkit pemulihan ekonomi dan mendukung target pertumbuhan ekonomi 4,5% hingga 5,5% di tahun depan.
"Pemerintah menggunakan momentum ini untuk meraih peluang dalam mendorong pemulihan ekonomi, dengan melakukan reformasi struktural melalui kemudahan berusaha, pemberian insentif usaha, dan dukungan UMKM, untuk memberikan kepastian usaha dan menciptakan iklim usaha dan investasi yang lebih baik, sehingga penciptaan lapangan kerja dapat terealisasi. Salah satu pendorong utama (key-driver) yang diandalkan adalah melalui Undang-Undang Cipta Kerja," ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Diskusi Panel Outlook Ekonomi dengan tema "Meraih Peluang Pemulihan Ekonomi di 2021", Selasa (22/12/2020).
Dia mengatakan peluang yang mengungkit pemulihan ekonomi 2021 adalah vaksinasi sebagai game changer ekonomi nasional di tengah pandemi Covid-19. "Sesuai arahan presiden, Januari akhir nanti vaksinasi sudah bisa dilaksanakan. Jadi, tahun 2021 saatnya kembali bekerja, kembali mengembangkan usaha, optimistis memanfaatkan peluang terjadinya pemulihan ekonomi," tegasnya.
Selain itu, sejumlah strategi lainnya turut disiapkan, yaitu dengan melanjutkan Program Komite PC-PEN (Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional) di tahun 2021, dukungan kebijakan untuk pemberdayaan UMKM, penyusunan Daftar Prioritas Investasi (DPI), dan pembentukan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau SWF.
Airlangga menyatakan, sinyal pemulihan dari sisi ekspor mulai nampak pada akhir 2020 dan tren ini diharapkan terus terjaga pada tahun 2021. "Indonesia telah mendapatkan kembali fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) yang tentunya akan mendorong ekspor Indonesia," pungkasnya.
Transaksi Berjalan Indonesia pun pertama kalinya surplus sebesar US$ 964 juta atau 0,36% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sejak 10 tahun terakhir. Kondisi ini juga didukung oleh Neraca Perdagangan Indonesia yang sampai dengan Oktober 2020 surplus sebesar US$ 17,07 miliar, serta cadangan devisa yang cukup tinggi sebesar US$ 135,2 miliar pada kuartal III-2020.
Berdasarkan data PDB pada triwulan III tahun 2020 yang telah menunjukkan tren perbaikan, pemerintah optimistis akan terus berlanjut di triwulan IV 2020 dan sepanjang tahun 2021. "Indonesia telah melewati posisi rock bottom, posisi terendah ekonomi pada triwulan II. Kita optimistis tren perbaikan dan pemulihan ekonomi akan terus berlanjut pada tahun mendatang," ujar Airlangga.
Selain itu, tren perbaikan juga terlihat dari kinerja pasar saham dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini sudah berada pada kisaran 6.100 dan Rupiah pada posisi Rp 14.100 per dolar Amerika. "Posisi ini relatif stabil dan mulai kembali atau bahkan lebih baik dari sebelum kondisi Covid-19," ucap Airlangga.
Lebih lanjut, dari sisi konsumsi domestik dan inflasi juga menunjukkan tren perbaikan. Di mana, permintaan domestik dan keyakinan konsumen yang membaik, memicu aktivitas produksi domestik. "Di sisi suplai, di tengah kontraksi ekonomi yang terjadi, masih terdapat sektor yang mampu bertahan dan tumbuh positif di sepanjang tahun 2020, seperti sektor pertanian, informasi dan komunikasi, jasa kesehatan dan kegiatan sosial, serta jasa pendidikan," jelas dia.
Peluang berikutnya, sambung Airlangga berasal dari pemulihan harga komoditas utama Indonesia di pasar global, seperti CPO, nikel, dan logam mulia. Pulihnya harga komoditas ini akan memberikan dampak multiplier yang besar terhadap aktivitas ekonomi domestik sehingga dapat mempercepat pemulihan ekonomi nasional.
Hal lain yang harus dimanfaatkan adalah aktivitas perdagangan internasional yang semakin terintegrasi, melalui perjanjian RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) secara luas oleh 10 negara ASEAN dan 5 mitra dagang besar, serta kerja sama internasional lainnya. "Demikian juga kerja sama Indonesia-EFTA di Eropa, CEPA Australia, CEPA Korea dan perpanjangan GSP yang tentu ini bisa mendorong untuk ditingkatkan limited trade agreement. Kerja sama ini mendorong kinerja ekspor dan memperbaiki posisi RI di global value chain," imbuhnya.
Di sisi lain, Menko Airlangga menggarisbawahi bahwa berbagai upaya pemerintah tersebut tidak akan berhasil, tanpa dukungan dari seluruh pemangku kepentingan. "Koordinasi dan sinergi antara pemerintah, dunia usaha dan seluruh komponen masyarakat harus terus diperkuat, untuk menjawab tantangan dan memanfaatkan peluang pemulihan ekonomi di tahun 2021," tegasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




