Tanggapan Sri Mulyani Soal Perempuan Diupah Lebih Rendah
Sabtu, 6 Maret 2021 | 17:15 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Di Indonesia, perempuan masih diupah lebih rendah dari laki-laki. Menurut Survei Angkatan Kerja Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2020, perempuan memiliki pendapatan 23% lebih rendah dari laki-laki. Pendidikan saja ternyata juga tidak dapat menutup kesenjangan upah berdasarkan gender. Pekerja perempuan dengan gelar sarjana mendapatkan penghasilan yang cukup rendah dibandingkan laki-laki.
Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, kondisi upah perempuan yang lebih rendah dari laki-laki ini sebetulnya tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain di dunia.
"Ini karena di dalam normal sosial dan budaya dari perusahaan atau masyarakat karena dominasi dari laki-laki seringkali secara taken for granted bahwa laki-laki ya pantasnya dibayar segini, kalau perempuan oh nanti sebentar lagi dia hamil, dia cuti, segala macam, jadi ada alasan saja. Kalau undang-undangnya sudah jelas, realitanya tidak, ya karena diversity di dalam decision making process-nya tidak ada," kata Sri Mulyani dalam acara Dialog Intergenerasional "Women and Girls : Game Changer in Development" yang digelar virtual, Sabtu (6/2/2021).
Menurut Sri Mulyani, bias gender akan muncul bila ada dominasi dari laki-laki. Sekedar gender-neutral, menurutnya juga tidaklah cukup.
"Kalau masih didominasi oleh laki-laki, walaupun ada undang-undangnya, di dalam implementasinya itu bias gender akan muncul. Makanya kalau sekarang kita sering bilang harus gender-neutral, itu saja tidak cukup. Kita bahkan harus little bit bias dengan afirmatif kepada perempuan. Karena kalau gender-neutral itu, ya itu mengoreksi tapi tidak mencukupi," ungkapnya.
Berbagai perjuangan selama ini memang sudah dilakukan terkait isu gender, mulai dari menggunakan podcast, atau para tokoh ramai-ramai berbicara mengenai betapa tidak adilnya perempuan dibayar lebih rendah, padahal menduduki posisi yang sama.
"Ini banyak, bahkan di perusahan internasional yang selama ini mengadvokasi gender equality pun secara tidak sadar di dalamnya masih mempraktekan hal itu. Bias itu mungkin juga banyak laki-laki yang tidak sadar bahwa itu bias, karena mereka taking for granted ya dari kecil dididik seperti ini. Padahal ini tidak fair untuk gender yang lain," kata Sri Mulyani.
Karenanya, pemahaman tentang hak yang sama antara laki-laki dan perempuan ini harus ditanamkan sejak dini. "Perlu ada perspektif yang aware, yang sadar bahwa dunia ini diciptakan dengan adanya perbedaan, tetapi harus sama levelnya. Beda itu tidak berarti yang satu ada di bawah. Beda itu ya kayak sandal kiri dan kanan saja, beda tapi sama. Berbagai undang-undang memang bisa kita produce, tetapi implementasinya membutuhkan peranan kita bersama," kata Sri Mulyani.
Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2020, kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan di Indonesia sebesar 23%, di mana rata-rata upah buruh/karyawan/pegawai laki-laki sebesar Rp 3,18 juta dibanding perempuan Rp 2,45 juta. Di tengah-tengah pandemi, kesenjangan sedikit menipis menjadi 21% per Agustus 2020. Namun, pada saat yang bersamaan, rata-rata upah juga menurun. Laki-laki menjadi Rp 2,98 juta dan perempuan menjadi Rp 2,35 juta.
Kesenjangan juga terjadi di Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Per Agustus 2020, TPAK laki-laki sebesar 82,4% sementara perempuan hanya 53,3%. Ini bisa diartikan dalam setiap 100 orang penduduk usia kerja, perempuan hanya sekitar 53 orang yang termasuk angkatan kerja.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




