Ekspor Sektor Industri Pengolahan Tumbuh 22,27%
Kamis, 15 April 2021 | 16:44 WIB
Jakarta, Beritasatu.com-Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan nilai ekspor pada Maret 2021 adalah sebesar US$ 18,35 miliar. Sektor industri pengolahan memegang peranan terbesar dengan sumbangsih 80,84%. Nilai ekspor dari industri pengolahan mencapai US$ 14,84 miliar atau tumbuh 22,27% dari Februari 2021 dan naik 33,45% dari Maret 2020.
"Kenaikan yang tinggi secara bulanan terjadi karena adanya kenaikan ekspor baik dari minyak kelapa sawit, besi baja, kimia dasar organik, yang bersumber dari minyak," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam telekonferensi pers pada Kamis (15/4/2021).
Bila dilihat secara kumulatif dari Januari sampai Maret 2021 sektor industri pengolahan tumbuh 18,06% menjadi US$ 38,96 miliar. Kenaikan ini disebabkan karena meningkatnya ekspor minyak kelapa sawit.
Suhariyanto mengatakan nilai ekspor sektor pertanian mencapai US$ 390 juta pada Maret 2021 atau naik 27,06% dari posisi Februari 2021. Komoditas yang mengalami kenaikan ekspor yaitu sarang burung, tanaman obat, cengkeh, tembakau, lada putih, aromatik dan rempah. Sedangkan bila dibandingkan dari posisi Maret 2020 sektor pertanian mengalami pertumbuhan ekspor sebesar 25,04%. "Secara tahunan beberapa produk pertanian yang naik cukup pesat setelah adalah tanaman obat, sarang burung, hasil hutan bukan kayu, aromatik dan rempah," ucapnya.
Nilai ekspor dari sektor pertambangan sebesar US$ 2,22 miliar. Angka ini menunjukan kenaikan 13,68% dari posisi Februari 2021, dan naik sebesar 11,93% dari posisi Maret 2020. Sementara itu nilai ekspor dari sektor migas sebesar US$ 910 juta. Angka ini menunjukan kenaikan 5,28% dari posisi Februari 2021, dan naik sebesar 38,67% dari posisi Maret 2020. Secara total nilai ekspor sebesar US$ 18,35 miliar dengan kenaikan 20,31% dari posisi Februari 2021 dan naik 30,47% dari posisi Maret 2020. "Ekspor Maret ini tinggi sekali dengan nilai US$ 18,35 miliar, ini tertinggi sejak Agustus 2011, waktu itu nilai ekspor kita sebesar US$ 18,64 miliar," ucap Suhariyanto.
Struktur ekspor tidak banyak berubah dimana ekspor non migas 95,06% dan migas sebesar 4,94%. Ekspor non migas terdiri dari industri pengolahan sebesar (80,84%), tambang (12,07%) dan pertanian (2,15%).
Catatan BPS menunjukkan pangsa ekspor non migas terbesar adalah Tiongkok dengan nilai mencapai US$ 3,73 miliar atau (21,36%) Komoditas utama yang kita ekspor di Tiongkok adalah besi dan baja, bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan dan nabati. Kedua yaitu Amerika Serikat US$ 2,07 miliar (11,86%). Komoditas utama yang diekspor adalah pakaian dan aksesorisnya dalam bentuk rajutan, alas kaki, karet dan barang-barang dari karet. "Ekspor ke negara ASEAN mencapai US$ 2,46 miliar (19,81%), sedangkan ke Uni Eropa mencapai US$ 1,44 miliar (8,25%)," ucapnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




