IHSG Diyakini Bisa ke 12.000 dalam 5 Tahun
Minggu, 12 Desember 2021 | 15:58 WIB
Bandung, Beritasatu.com – Prospek pasar saham di Indonesia dalam lima tahun ke depan akan semakin moncer, bahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bisa mencapai level 12.000 pada tahun 2026.
Faktor pendukungnya antara lain, pertumbuhan ekonomi mulai 2022 akan bertumbuh 5% dan angka itu akan berlanjut dalam lima tahun ke depan, terus meningkatnya konsumsi dan belanja modal, derasnya arus investasi masuk, serta peningkatan sumber daya manusia yang adaptif terhadap teknologi informasi.
Hal itu diungkapkan oleh pemerhati pasar modal, Edhi Pranasidhi, dalam webinar bertema "Future Prospects Jakarta Composite Index in 2022" yang diselenggarakan oleh D'Origin, komunitas investor dan analis pasar modal pada Sabtu (11/12/2021).
Pembiacara lain dalam webinar tersebut adalah Nicko Yosafat, ekonom Ciptadana Sekuritas Asia, Herwin Hidayat (Director/Investor Relations PT Bumi Resources Minerals Tbk), Henry F Yusuf (Director Strategy and Relations PT Itama Ranoraya Tbk), Umar Abdullah (Komisaris Independen PT Armada Berjaya Trans Tbk), Adelian Auliyanti (Corporate Secretary PT PP Presisi Tbk) dan Putri Retno Ali (Corporate Secretary PT Widodo Makmur Perkasa Tbk). Acara ini dipandu oleh Cynthia Nadeak dari D'Origin.
Edhi Pranasidhi mengajak investor untuk berpikir jangka panjang mengingat prospek ekonomi Indonesia sangat cerah. Saham-saham blue chip yang prospektif akan memberikan keuntungan yang menjanjikan dalam lima tahun ke depan.
Menurut dia, tahun depan akselerasi pertumbuhan ekonomi bisa melebihi ekspektasi. Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2022 sebesar 5,2%, sehingga perkiraan produk domestik bruto (PDB) bisa mencapai Rp 17.851 triliun (US$ 1,24 triliun). Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi bisa dipertahankan di atas 5%, maka PDB 2023 mencapai Rp 18,743 triliun ( US$ 1,3 triliun).
Ia memprediksi IHSG pada 2021 akan ditutup pada level 6.726. "Rata-rata price earning ratio (PER) dari 30 saham penggerak IHSG dalam 10 tahun sekitar 17,9 x sehingga tahun ini IHSG diperkirakan ditutup pada level 6726," ujarnya. Sedangkan tahun depan, IHSG diperkirakan bisa mencapai 7.752.
Ia mengajak pelaku pasar untuk mempunyai mindset investasi yang benar dengan menentukan time frame, goal return yang hendak dicapai, dan atur cash account secara benar.
Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi
Optimisme serupa juga diungkapkan oleh Nicko Yosafat, ekonom Ciptadana. Menurut dia, tahun 2022 akselerasi pertumbuhan ekonomi akan bergerak lebih cepat karena Indonesia keberhasilan Indonesia dalam mengendalikan Covid-19. " Tercapainya herd immunity merupakan game changer untuk membangkitkan ekonomi," kata dia.
Sinyal pemulihan ekonomi Indonesia juga nampak dari peningkatan mobilitas masyarakat, bahkan sekitar 4%, lebih cepat dari sebelum pandemi.
Yang menarik, kata dia, investasi di Indonesia tidak pernah tumbuh negatif, menunjukkan RI tahan banting. Hal ini karena masifnya pemerintah melakukan deregulasi, menghilangkan bottleneck yang menghambat investasi.
Menurut dia, UU Cipta Kerja dan UU Harmonisasi Pajak sangat berperan dalam mendorong investasi. Namun, adanya keputusan MK yang menyatakan UU Ciptakerja inkonstitusional akan menimbulkan ketidakpastian. "Kami berharap ini tidak terjadi dalam UU Harmonisasi Pajak," ujarnya.
Selain itu, komitmen pemerintah masih akan memberikan stimulus untuk mendorong ekonomi, khususnya UMKM, memberikan efek sangat positif. "Stimulus dengan melakukan burden sharing antara BI dan pemerintah sangat dibutuhkan," kata dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




