Tren BI Rate Berpotensi Stabil
Jumat, 11 Januari 2013 | 20:56 WIB
Inflasi Indonesia siklusnya lebih pendek dibandingkan BI rate
Pada Rapat Dewan Gubernur Triwulan IV-2012, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan tetap BI rate di level 5,75%, sehingga telah bertahan selama 12 bulan.
Sedangkan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah menahan tetap bunga penjaminan untuk deposito rupiah bank umum di level 5,5% selama 11 bulan.
Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono mengatakan, jika memperhatikan inflasi pada 2012 yang hanya 4,3%, sebenarnya BI rate masih bisa diturunkan menjadi 5,25%.
"Tetapi, dengan kondisi rupiah yang tertekan oleh kondisi neraca perdagangan, rupiah memerlukan depresiasi agar dapat memperkuat daya saing produk-produk ekspor Indonesia," kata Tony kepada wartawan di Jakarta, Jumat (11/1).
Namun, Direktur Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI Difi Ahmad Johansyah mengatakan, inflasi Indonesia siklusnya lebih pendek dibandingkan BI rate, sehingga tidak dapat menggunakan real interest rate.
Kondisi masih volatile-nya nilai tukar juga cukup berpengaruh terhadap inflasi. Sehingga, ketika kondisi ketidakpastian masih tinggi, BI rate tidak mungkin dilonggarkan.
Direktur Grup Kebijakan Moneter Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Juda Agung menegaskan, BI memiliki kebijakan forward looking untuk inflasi dan BI rate.
“Jadi walaupun inflasi rendah, tapi itu yang sudah terjadi. Kalau inflasi masih sesuai target, tentunya BI rate dipertahankan,” ungkap Juda.
Pada Rapat Dewan Gubernur Triwulan IV-2012, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan tetap BI rate di level 5,75%, sehingga telah bertahan selama 12 bulan.
Sedangkan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah menahan tetap bunga penjaminan untuk deposito rupiah bank umum di level 5,5% selama 11 bulan.
Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono mengatakan, jika memperhatikan inflasi pada 2012 yang hanya 4,3%, sebenarnya BI rate masih bisa diturunkan menjadi 5,25%.
"Tetapi, dengan kondisi rupiah yang tertekan oleh kondisi neraca perdagangan, rupiah memerlukan depresiasi agar dapat memperkuat daya saing produk-produk ekspor Indonesia," kata Tony kepada wartawan di Jakarta, Jumat (11/1).
Namun, Direktur Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI Difi Ahmad Johansyah mengatakan, inflasi Indonesia siklusnya lebih pendek dibandingkan BI rate, sehingga tidak dapat menggunakan real interest rate.
Kondisi masih volatile-nya nilai tukar juga cukup berpengaruh terhadap inflasi. Sehingga, ketika kondisi ketidakpastian masih tinggi, BI rate tidak mungkin dilonggarkan.
Direktur Grup Kebijakan Moneter Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Juda Agung menegaskan, BI memiliki kebijakan forward looking untuk inflasi dan BI rate.
“Jadi walaupun inflasi rendah, tapi itu yang sudah terjadi. Kalau inflasi masih sesuai target, tentunya BI rate dipertahankan,” ungkap Juda.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




