ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Sektor Perikanan Bocor Rp 20 T Per Tahun

Selasa, 15 Januari 2013 | 16:19 WIB
AA
B
Penulis: Annisa Maulida Abidin | Editor: B1
Ilustrasi produksi perikanan.
Ilustrasi produksi perikanan. (Antara/Ismar Patrizki)
Jika Indonesia serius menggarap sektor perikanan dan kelautan, maka diperkirakan Indonesia bisa menjadi produsen nomor satu di dunia.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perikanan dan Kelautan Yugi Prayanto mengatakan bahwa nilai potensi perikanan dan kelautan yang hilang bisa mencapai Rp 10-20 triliun per tahun. Hal ini menghalangi Indonesia menjadi produsen perikanan terbesar di dunia.

“Indonesia harus lebih memanfaatkan potensi yang ada, jangan biarkan nilai potensi yang mencapai Rp 10-20 trilyun hilang begitu saja,” ujar Yugi dalam siaran pers yang dilansir hari ini.

Dia mengatakan sebagai negara maritim, Indonesia dinilai belum mampu mendayagunakan sumber daya laut secara optimal. Tantangan yang datang dari laut ini bukan hanya merupakan tantangan terhadap pemerintah, tetapi juga harus dihadapi oleh dunia usaha.

Yugi juga mengatakan, jika Indonesia serius menggarap sektor perikanan dan kelautan, maka diperkirakan Indonesia bisa menjadi produsen nomor satu di dunia. Pasalnya, China yang memiliki luas perairan lebih kecil dari Indonesia saja sekarang menjadi produsen terbesar di dunia. Sementara Indonesia hanya mampu berada di posisi ke tujuh dunia.

Dilihat dari sisi bisnis dan ekonomi, kontribusi industri perikanan Indonesia juga masih kecil. Pada tahun 2011 ekspor ikan Indonesia baru mencapai US$ 3,34 milyar dengan luas perairan 5,88 juta kilo meter persegi. Angka ekspor dalam tahun 2012 diperkirakan naik menjadi sekitar US$ 5 milyar dengan produksi 12 juta ton.

Menurut Yugi, sektor kelautan masih belum mendapat perhatian dari para investor. Dengan masih besarnya pangsa investasi di darat, maka diperlukan upaya keras untuk menarik para investor terjun ke investasi maritim.

“Kita perlu mengembangkan sumber daya kelautan melalui investasi yang bersifat terpadu atau integrated investment. Ini dikarenakan permasalahan perikanan mempunyai spektrum yang luas. Secara vertikal dari hulu ke hilir, kita menghadapi permasalahan investasi dalam hal kemampuan penangkapan, penyimpanan dan pengawetan, permasalahan pengemasan, pengangkutan sampai pada pemasaran,” papar Yugi.

Untuk memperbaiki keadaan dan meningkatkan efektivitas, kata Yugi, pemerintah harus lebih memperhatikan kebutuhan-kebutuhan yang ada di lapangan terutama bagi nelayan, misalnya dengan pengadaan cold storage dan Depo BBM di sekitar wilayah nelayan karena sering terjadi kelangkaan.

“Pemerintah juga harus terus melakukan upaya-upaya dalam peningkatan nilai tambah produk-produk keluatan dan perikanan, termasuk serius menyediakan infrastruktur yang dapat menarik investasi,” tandas Yugi.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Surplus Neraca Perdagangan Capai US$ 2,23 M Didukung Ekspor Industri

Surplus Neraca Perdagangan Capai US$ 2,23 M Didukung Ekspor Industri

EKONOMI
Durian RI Makin Masif Masuk ke China

Durian RI Makin Masif Masuk ke China

LIFESTYLE
Sarung Batik Kudus Tembus Ekspor, Penjualan Naik Drastis Saat Lebaran

Sarung Batik Kudus Tembus Ekspor, Penjualan Naik Drastis Saat Lebaran

JAWA TENGAH
Pemerintah Harus Perkuat Diplomasi ke Eropa demi Kinerja Ekspor

Pemerintah Harus Perkuat Diplomasi ke Eropa demi Kinerja Ekspor

EKONOMI
Kawasan Industri Tematik Solusi Tarik Investasi

Kawasan Industri Tematik Solusi Tarik Investasi

EKONOMI
Penuhi Kebutuhan Jemaah Haji, KKP Targetkan Ekspor Ikan ke Arab Saudi

Penuhi Kebutuhan Jemaah Haji, KKP Targetkan Ekspor Ikan ke Arab Saudi

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon