ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

GCRG Catat 1,2 Miliar Penduduk Dunia Rentan 3 Krisis Global

Jumat, 10 Juni 2022 | 19:33 WIB
AK
FH
Penulis: Arnoldus Kristianus | Editor: FER
Kiri ke kanan: Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi dan Persidangan Haryo Limanseto; Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Multilateral Ferry Ardiyanto; Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso; dan Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Amerika dan Pasifik Irwan Sinaga.
Kiri ke kanan: Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi dan Persidangan Haryo Limanseto; Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Multilateral Ferry Ardiyanto; Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso; dan Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Amerika dan Pasifik Irwan Sinaga. (Istimewa)

Estimasi dari Program Pangan Dunia (WFP) PBB menunjukkan, jumlah penduduk yang masuk dalam kategori sangat rawan pangan meningkat dua kali lipat, dari 135 juta orang sebelum pandemi, menjadi 276 juta orang, hanya dalam waktu dua tahun.

Efek perang di Ukraina diperkirakan akan meningkatkan jumlah tersebut hingga 323 juta orang pada tahun 2022. Indeks harga pangan terbaru dari FAO mencapai rekor tertinggi pada bulan Februari 2022 sebelum perang, dan mengalami kenaikan tertinggi dalam sejarah, dengan rekor tertinggi pada bulan Maret 2022.

"Dampak pandemi masih belum selesai, sekarang ketambahan masalah konflik Rusia-Ukraina," tandas Susiwijono.

Baca Juga: Wacana Pelabelan BPA, Ini Saran Kemenko Perekonomian

ADVERTISEMENT

Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Multilateral Ferry Ardiyanto mengatakan, dalam forum GCRG, Indonesia berkomitmen untuk mengawal stabilitas pangan dan menjaga inflasi.

Indonesia menawarkan solusi jangka pendek, menengah, dan panjang terkait krisis pangan akibat perang di Ukraina. Dalam jangka pendek Indonesia berkomitmen membantu Ukraina dalam pendistribusian pangan. Kedua menyiapkan bantuan kemanusiaan dan rute pelayanan alternatif, ketiga pelonggaran sanksi ekonomi kepada Rusia.

"Untuk jangka menengah dan panjang, pemerintah Indonesia berkomitmen meningkatkan kapasitas produksi. Kedua menjaga arus perdagangan yang stabil. Ketiga adalah diversifikasi sumber dan konsumsi pangan," ucap Ferry.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon