Era Post Truth: Persepsi Lebih Penting Dibanding Realitas
Senin, 5 September 2022 | 19:15 WIB
"Dalam era post truth ini, seseorang dapat menentukan agenda setting atau isu yang akan disebarkan ke publik. Terciptanya agenda setting bisa menciptakan opini publik yang baru," ujar Firsan.
Dalam konteks isu, fakta selalu satu, tetapi cara pandang seseorang bisa berbeda. Semua itu bisa diatasi apabila kita dapat mengelola isu dengan baik. Firsan menambahkan bahwa ada sebuah kunci untuk memainkan isu.
"Cara paling mudah untuk memainkan isu adalah pilih isu yang paling menguntungkan yang dipengaruhi oleh rasa, suasana, dan kepentingan, apabila kita tidak mampu mengubah fakta, ubahlah cara pandangnya," tambahnya.
Nexus, kata Firsan, memiliki cara sendiri untuk menangani isu. Pertama, lihat dulu konten isu tersebut. Kedua, perhatikan sumber isu. Ketiga, amati minat publik, apakah publik peduli dengan isu tersebut atau tidak.
"Saat ini era every body owns media, dan setiap orang adalah media konsekuensinya reputasi seseorang atau perusahaan bisa menjadi tidak karuan (cluttered), mudah rusak (fragile), tidak bisa dikendalikan (uncontrollable) dan berbahaya (dangerous). Keempat hal tersebut bisa dilihat dalam kasus Ferdy Sambo, isunya simpang siur, merusak nama pribadi dan juga institusi, tidak terkendali dan jika tidak ditangani dengan baik mengancam kredibilitas para pihak yang terlibat seperti, Polri, Komnas HAM, LPSK dan lain-lain," tegasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




