Inflasi AS Tak Sesuai Ekspektasi, Sri Mulyani Perkirakan The Fed Makin Hawkish
Rabu, 14 September 2022 | 16:33 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan Bank Sentral AS atau The Federal Reserve melanjutkan kebijakan hawkish atau agresif menaikkan suku bunga hingga akhir tahun, lantaran inflasi AS atau indeks harga konsumen (IHK) negeri Paman Sam lanjutkan peningkatan hingga Agustus 2022 menjadi 8,3% (yoy).
Data inflasi tersebut lebih tinggi dari ekspektasi sebelumnya mencapai 8,1%. Hal ini pun dinilainya perlu menjadi kewaspadaan bagi semua pihak untuk tetap menjaga ekonomi domestik.
"Inflasi AS (Agustus) naik. Ini akan berimplikasi pada kebijakan The Fed yang akan semakin hawkish dalam kebijakan moneternya. Dinamika seperti ini harus kita terus liat," ucapnya dalam Rapat Panja bersama Banggar, Rabu (14/9/2022).
Baca Juga: Kencangkan Ikat Pinggang, Inflasi Bisa Lebih Tinggi dari Pertumbuhan Ekonomi
Dia menjelaskan bahwa berbagai dinamika global tetap menjadi pertimbangan pemerintah dalam merumuskan asumsi makro RAPBN tahun 2023. Pertumbuhan ekonomi disepakati 5,3% (yoy), inflasi diprediksi naik dari rancangan awal 3,3% menjadi 3,6%. Kemudian nilai tukar rupiah ada perubahan sedikit dari semula Rp 14.750 per dolar menjadi Rp 14.800 per dolar.
"Berbagai kebijakan ini akan terus diamati dan diantisipasi, kalau guncangan global bergerak ke arah yang sangat tidak diprediksi," ucapnya.
Sebagaimana diketahui, inflasi Amerika Serikat (AS) kembali melandai pada bulan Agustus 2022, meskipun masih jauh dari target Federal Reserve. Apabila dilansir Bloomberg pada Selasa (10/8), Departemen Tenaga Kerja AS mencatat indeks harga konsumen (IHK) AS naik 8,3 persen pada Agustus 2022 dari periode yang sama tahun sebelumnya (yoy).
Inflasi AS ini lebih rendah dari bulan Juli 2022 yang mencapai 8,5 persen yoy. Dibandingkan bulan sebelumnya (month-on-month/mom), inflasi AS mencapai 0,1%.
Laporan inflasi adalah salah satu data yang terakhir yang akan dilihat The Fed menjelang pertemuan 20-21 September. Bank sentral diperkirakan akan menaikkan suku bunga 0,75 poin persentase ketiga berturut-turut untuk menekan inflasi. Laporan Agustus yang tinggi dapat membuat The Fed melanjutkan kenaikan agresifnya lebih lama dari yang diantisipasi investor.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




