Thailand Gunakan Meriam Suara untuk Usir Warga Kamboja di Perbatasan
Rabu, 27 Agustus 2025 | 13:30 WIB
Bangkok, Beritasatu.com – Militer Thailand menuduh warga dan tentara Kamboja menyusup ke desa perbatasan, memicu konfrontasi baru di tengah ketegangan yang belum reda. Thailand bahkan mengerahkan meriam suara untuk menghalau massa.
Wakil Menteri Pertahanan Thailand Natthaphon Nakphanich, pada Selasa (26/8/2025) menyatakan bahwa sekelompok warga sipil dan tentara Kamboja telah menyingkirkan kawat berduri yang dipasang tentara Thailand di Desa Ban Nong Chan, Provinsi Sa Kaeo, Thailand timur.
Menurutnya, Daerah Militer 1 Angkatan Darat Thailand menggunakan alat akustik jarak jauh (LRAD), atau dikenal sebagai meriam suara, untuk mencegah warga Kamboja masuk secara ilegal. Alat ini dapat mengeluarkan suara keras yang mengganggu, namun diklaim tidak menimbulkan cedera.
Natthaphon mengimbau warga Kamboja menghentikan aksi penyerbuan dan menegaskan bahwa Desa Ban Nong Chan adalah wilayah Thailand. Ia juga berharap polisi dapat dikerahkan guna mengendalikan situasi dan meredakan ketegangan di perbatasan.
Pejabat Thailand memperingatkan bahwa langkah pengendalian massa akan ditingkatkan secara bertahap jika konfrontasi terus berlanjut.
Juru bicara militer Thailand, Winthai Suvaree, menjelaskan bahwa Ban Nong Chan sebelumnya menampung pengungsi Kamboja beberapa dekade lalu, namun sebagian memilih tetap tinggal secara ilegal.
Sementara itu, otoritas Kamboja mengeklaim telah mengerahkan pasukan tak bersenjata dan pejabat lokal di Provinsi Banteay Meanchey untuk melindungi warga dari invasi tentara Thailand. Rekaman dari Desa Chok Chey di wilayah tersebut menunjukkan warga setempat berhadapan langsung dengan tentara Thailand.
“Kami hanya bereaksi karena khawatir dengan pemasangan kawat berduri dan bertekad melindungi tanah yang kami anggap sebagai milik sah,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata.
Menurutnya, pasukan Kamboja tidak bersenjata dan hanya ditempatkan untuk menjamin keselamatan warga sipil.
Konflik di perbatasan kedua negara sebenarnya telah memanas sejak 24 Juli 2025, memicu bentrokan paling serius dalam lebih dari satu dekade. Sedikitnya 43 orang tewas dalam pertempuran itu.
Kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata pada 28 Juli 2025, termasuk komitmen tidak menambah pasukan di perbatasan. Namun, ketegangan kembali meningkat pada 25 Agustus ketika tentara Thailand mencoba memasang kawat berduri di dekat Desa Chok Chey, yang langsung ditentang keras warga setempat dan pemerintah Kamboja.
Militer Thailand menuding Kamboja memanfaatkan warga sipil sebagai tameng. “Tanah itu milik Thailand, dan kawat berduri bukan untuk menandai perbatasan, melainkan demi keamanan,” ujar juru bicara militer Thailand.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




