Turki Waspada Ancaman Israel Seusai Serangan di Qatar
Minggu, 14 September 2025 | 12:43 WIB
Istanbul, Beritasatu.com - Turki waspada ancaman Israel setelah serangan udara yang menargetkan pertemuan pejabat Hamas di Qatar. Insiden tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa Ankara bisa menjadi target berikutnya.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Turki, Laksamana Muda Zeki Akturk memperingatkan di Ankara bahwa Israel berpotensi memperluas serangan “gegabah” seperti yang terjadi di Qatar. Ia menilai langkah itu bisa menyeret seluruh kawasan, termasuk Turki, ke dalam bencana yang lebih besar.
Padahal, Israel dan Turki pernah menjadi mitra regional yang cukup kuat. Namun, sejak akhir 2000-an, hubungan kedua negara merosot tajam. Puncaknya terjadi setelah perang Gaza yang dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel selatan.
Rivalitas juga semakin panas karena kedua negara berebut pengaruh di Suriah setelah jatuhnya pemerintahan Bashar Assad.
Presiden Recep Tayyip Erdogan secara konsisten menyuarakan dukungan bagi perjuangan Palestina, termasuk Hamas. Retorikanya kerap tajam terhadap Israel, terutama kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Erdogan bahkan menuduh Israel melakukan genosida dan menyamakan Netanyahu dengan Adolf Hitler.
Bagi Turki, isu Palestina tidak bisa dilepaskan dari relasi erat dengan Qatar. Erdogan dikenal dekat dengan para pemimpin Doha, sementara Turki menjalin kerja sama militer dan perdagangan yang kuat dengan emirat tersebut.
Erdogan dijadwalkan menghadiri pertemuan puncak para pemimpin Arab dan Muslim di Qatar akhir pekan ini.
Keberadaan pejabat Hamas di Turki juga menambah sorotan. Israel kerap menuduh Turki memberi ruang bagi Hamas untuk merencanakan serangan, melakukan perekrutan, hingga penggalangan dana. Hal ini semakin memperkeruh konflik Israel-Turki yang sudah memanas.
Serangan Israel ke Qatar, Iran, Suriah, hingga Yaman membuat Turki waspada. Serhat Suha Cubukcuoglu, direktur Program Trends Research and Advisory untuk Turki menilai Israel sedang berupaya membentuk “zona penyangga” dengan melemahkan negara-negara tetangga.
Meski Turki memiliki perlindungan lebih besar sebagai anggota NATO dan kekuatan militer terbesar kedua setelah Amerika Serikat di aliansi itu, kekhawatiran tetap ada.
Erdogan telah merespons dengan mempercepat produksi rudal, meresmikan sistem pertahanan udara terpadu “Steel Dome", dan mempercepat proyek jet tempur generasi kelima KAAN.
Ozgur Unluhisarcikli dari German Marshall Fund di Ankara menilai serangan udara Israel ke wilayah Turki kecil kemungkinan terjadi. Namun, ia tidak menutup kemungkinan adanya operasi skala kecil atau aksi intelijen yang menargetkan Hamas di Turki.
Serangan ke Qatar justru memperkuat posisi Turki untuk tetap bersama Hamas. Menurut Cubukcuoglu, Ankara khawatir jika meninggalkan Hamas, pengaruh regionalnya akan merosot. Sebaliknya, mempertahankan dukungan dapat mempertegas citra Turki sebagai pembela Palestina menghadapi agresi Israel.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




