Ketika Warga Iran Bertahan di Tengah Gempuran AS-Israel
Jumat, 6 Maret 2026 | 13:24 WIB
Teheran, Beritasatu.com - Warga Teheran berupaya menjalani kehidupan sehari-hari di tengah gelombang serangan rudal Amerika Serikat dan Israel yang terus menghantam ibu kota Iran sejak akhir pekan. Ledakan keras kini menjadi suara yang kerap terdengar di berbagai wilayah kota berpenduduk hampir 10 juta jiwa tersebut.
Sejumlah warga mengaku tetap bertahan di rumah masing-masing sambil memantau perkembangan situasi. Seorang warga Teheran timur bernama Sepehr mengatakan dirinya baru akan meninggalkan kota jika kondisi keamanan semakin memburuk.
“Perang ini mungkin berlangsung berminggu-minggu, jadi saya dan keluarga hanya akan pergi jika situasinya benar-benar memburuk. Untuk saat ini kehidupan masih berjalan,” kata Sepehr, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (6/3/2026).
Serangan rudal yang terjadi sejak Sabtu (28/2/2026) dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.000 orang. Ledakan di sejumlah titik bahkan menimbulkan kepulan asap tebal yang terlihat dari kejauhan serta mengguncang bangunan di sekitarnya.
Pemerintah Iran menyebut beberapa fasilitas air dan listrik mengalami kerusakan akibat serangan tersebut. Namun hingga kini belum dilaporkan adanya pemadaman listrik berskala besar.
Meski demikian, suasana kota berubah drastis. Jalanan terlihat lebih sepi dari biasanya dan banyak toko serta usaha memilih tutup sementara.

Kebutuhan Pokok Masih Aman
Seorang warga Teheran barat bernama Marjan mengatakan ia biasanya keluar rumah pada siang hari ketika serangan udara berhenti sementara untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
“Biasanya ada antrean roti dan juga antrean di beberapa pom bensin, tetapi tidak terlalu panjang,” ujarnya.
Menurutnya sebagian besar kebutuhan pokok masih tersedia meski harga terus meningkat dan mulai memberatkan masyarakat.
Data terbaru menunjukkan kondisi ekonomi Iran semakin tertekan bahkan sebelum perang dimulai. Pusat Statistik Iran mencatat inflasi tahunan mencapai 68,1%, sementara Bank Sentral Iran memperkirakan inflasi sekitar 62,2%.
Inflasi pangan bahkan mencapai sekitar 105%, termasuk kenaikan harga minyak goreng hingga 207%, daging merah 117%, produk susu dan telur 108%, buah-buahan 113%, serta roti dan jagung 142%.
Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref menyatakan pemerintah sempat khawatir terhadap ketersediaan obat-obatan dan peralatan medis, namun hingga kini pasokan masih dinilai cukup.

Blokir Internet
Pemerintah Iran memblokir akses internet global selama enam hari terakhir di tengah gelombang serangan udara yang terjadi di berbagai wilayah negara tersebut. Kebijakan ini dilakukan untuk membatasi arus informasi sehingga hanya media pemerintah dan layanan pesan domestik yang dapat diakses masyarakat.
Media resmi Iran IRNA lebih banyak menyiarkan pernyataan pemerintah serta laporan mengenai keberhasilan serangan militer Iran di berbagai wilayah. Sementara informasi mengenai kerusakan di kawasan sipil dilaporkan terbatas.
Seorang jurnalis Iran, Milad Alavi, mengungkapkan kesulitan mengakses internet global. Ia menyatakan baru dapat mengirim pesan setelah berusaha selama enam jam dengan mencoba puluhan konfigurasi jaringan pribadi virtual dan koneksi proxy.
“Internet di Iran, baik kabel maupun seluler, praktis terputus. Kami tidak mendapat berita apa pun, sementara televisi pemerintah menayangkan seolah-olah Iran hampir menguasai Tel Aviv dan Washington,” tulisnya di platform X.
Pengamat internet global melaporkan konektivitas jaringan di Iran anjlok beberapa menit setelah serangan udara menghantam pusat kota Teheran pada Sabtu pagi.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, sejumlah anggota keluarganya, serta sejumlah komandan militer senior.
Data dari Cloudflare dan NetBlocks menunjukkan tingkat koneksi internet di Iran sempat turun hingga di bawah 1% dari tingkat sebelumnya dan bertahan pada level tersebut selama beberapa waktu.
NetBlocks bahkan menyebut kondisi tersebut menciptakan situasi yang semakin menyerupai pembatasan informasi ekstrem karena akses internet global hampir sepenuhnya terputus.
Dengan hanya jaringan intranet domestik yang masih aktif, kolom komentar di sejumlah situs berita lokal menjadi satu-satunya ruang daring bagi sebagian warga untuk menyampaikan pendapat.
Namun setelah banyak komentar berisi kritik terhadap pemerintah, otoritas peradilan memerintahkan penutupan kolom komentar di situs teknologi populer Zoomit.
Di tengah pembatasan tersebut, pasar gelap akses internet kembali bermunculan. Sejumlah warga mengaku membeli koneksi proxy dari penjual lokal agar tetap bisa mengakses internet global, meski dengan kecepatan lambat dan biaya mahal.
Hingga kini pemerintah Iran belum mengumumkan kapan pembatasan akses internet global tersebut akan dicabut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




