Bukti Ungkap Rudal AS Hantam SD Iran, Kenapa Trump Salahkan Teheran?
Kamis, 12 Maret 2026 | 15:25 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Tragedi memilukan terjadi di Iran ketika sebuah rudal menghantam SD Shajareh Tayyebeh di Minab dan menewaskan 168 siswi serta guru.
Di tengah duka mendalam tersebut, berbagai bukti yang muncul dari analisis media internasional dan penyelidikan militer justru menimbulkan dugaan kuat bahwa serangan itu berkaitan dengan operasi militer Amerika Serikat.
Ledakan yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026) itu berasal dari sebuah rudal yang menghantam area sekolah dasar tersebut. Pada awal kejadian, baik Amerika Serikat maupun Israel menyatakan tidak mengetahui asal-usul rudal yang menewaskan ratusan pelajar dan tenaga pendidik tersebut.
Namun seiring berjalannya waktu, sejumlah bukti yang muncul dari analisis media internasional hingga penyelidikan internal militer Amerika Serikat justru mengarah pada dugaan bahwa serangan tersebut berkaitan dengan operasi militer AS.
Kronologi Ledakan di SD Shajareh Tayyebeh, Minab
Peristiwa bermula ketika sebuah rudal menghantam bangunan di sekitar SD Shajareh Tayyebeh di Minab, wilayah selatan Iran. Ledakan tersebut menimbulkan kerusakan besar pada area sekolah dan menyebabkan ratusan korban jiwa, termasuk siswi dan guru yang sedang berada di lingkungan sekolah.
Pada tahap awal, tidak ada pihak yang secara langsung mengakui bertanggung jawab atas serangan tersebut. Baik Amerika Serikat maupun Israel sama-sama menyatakan tidak mengetahui sumber rudal yang menghantam kawasan tersebut.
Situasi ini memicu kemarahan publik di Iran serta meningkatkan tekanan internasional agar dilakukan penyelidikan menyeluruh. Sejumlah laporan investigasi kemudian mulai bermunculan dan mengarah pada kemungkinan keterlibatan militer Amerika Serikat.
Analisis BBC: Rudal Tomahawk Diduga Menghantam Area Sekolah
Salah satu temuan penting muncul dari analisis yang dilakukan BBC Internasional melalui unit verifikasi mereka. Dalam laporan yang diterbitkan pada Selasa (10/3/2026), BBC memaparkan berbagai bukti yang mengarah pada penggunaan rudal Tomahawk dalam serangan tersebut.
Analisis itu didasarkan pada video yang dirilis kantor berita semi-resmi Iran, Mehr. Rekaman tersebut memperlihatkan sebuah rudal beberapa saat sebelum menghantam pangkalan militer Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang berada di dekat SD Shajareh Tayyebeh.
BBC Verify menyatakan bahwa video tersebut telah diverifikasi keasliannya. Setelah dilakukan pemeriksaan menggunakan citra satelit, video terverifikasi, serta analisis para ahli, ditemukan bahwa area di sekitar sekolah memang menjadi target beberapa serangan.
Para pakar yang mempelajari rekaman tersebut menyimpulkan bahwa amunisi yang terlihat memiliki karakteristik rudal Tomahawk. Hal ini menjadi petunjuk penting karena jenis rudal tersebut diketahui hanya dimiliki oleh militer Amerika Serikat.
Berdasarkan temuan tersebut, para analis menilai bahwa kemungkinan Iran menyerang sekolahnya sendiri menjadi sangat kecil.
Penyelidikan Pentagon Mengarah pada Militer AS
Temuan yang mengarah pada keterlibatan Amerika Serikat juga muncul dari laporan The New York Times yang diterbitkan pada Rabu (11/3/2026). Media tersebut mengungkap hasil penyelidikan awal Departemen Pertahanan AS terkait serangan di Minab.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa investigasi internal Pentagon menemukan indikasi bahwa militer Amerika Serikat berada di balik serangan yang menghantam SD Shajareh Tayyebeh.
Sejak awal, pemerintah Iran memang telah menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Sejumlah laporan media dan investigasi independen kemudian menguatkan dugaan itu dengan menyebutkan bahwa serangan dilakukan menggunakan rudal Tomahawk.
Video yang telah diverifikasi BBC juga memperlihatkan kepulan asap besar di dekat sekolah sebelum rudal Tomahawk terlihat dalam rekaman.
Hal ini mengindikasikan bahwa area tersebut kemungkinan sudah terkena serangan sebelumnya sebelum rudal yang terekam dalam video menghantam pangkalan militer di dekatnya.
Temuan ini selaras dengan analisis BBC Verify yang sebelumnya menyebutkan bahwa sekolah tersebut kemungkinan diserang hampir bersamaan dengan beberapa bangunan lain yang berada di kompleks IRGC di sekitarnya.
Kesaksian Para Ahli tentang Rudal Tomahawk
Sejumlah pakar turut memberikan analisis mengenai jenis amunisi yang terlihat dalam video serangan tersebut. Tiga ahli yang memeriksa rekaman menyimpulkan bahwa rudal yang tampak memiliki ciri khas Tomahawk milik Amerika Serikat.
Seorang analis senior dari McKenzie Intelligence Services menjelaskan bahwa karakteristik amunisi yang terlihat dalam video sesuai dengan rudal Tomahawk yang berada dalam fase terminal atau fase akhir sebelum menghantam target.
Kesimpulan serupa juga disampaikan oleh analis keamanan nasional sekaligus mantan personel Angkatan Udara AS, Wes Bryant. Menurutnya, bukti adanya beberapa serangan di kompleks IRGC menunjukkan bahwa operasi tersebut kemungkinan merupakan operasi militer yang direncanakan secara presisi.
Sebagai informasi, Tomahawk merupakan rudal jelajah jarak jauh yang dapat diluncurkan dari kapal selam, kapal perang, maupun pesawat. Senjata ini telah menjadi bagian dari sistem persenjataan militer Amerika Serikat selama beberapa dekade.
Pernyataan pejabat militer Amerika Serikat juga memberikan konteks tambahan terkait penggunaan rudal tersebut. Perwira militer paling senior AS, Jenderal Dan Caine, pada 2 Maret menyebut bahwa rudal Tomahawk menjadi senjata pertama yang ditembakkan ke Iran oleh Angkatan Laut AS sebagai bagian dari serangan di sepanjang sayap selatan.
Selain itu, dalam konferensi pers pada 4 Maret, Departemen Pertahanan AS juga menampilkan peta ilustrasi mengenai serangan dalam 100 jam pertama perang. Peta tersebut menunjukkan wilayah Minab sebagai salah satu target operasi militer.
Trump Membantah dan Salahkan Iran
Di tengah berbagai temuan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tetap menolak anggapan bahwa negaranya berada di balik serangan di Minab.
Pada awalnya, Trump justru menyalahkan Iran atas pengeboman sekolah dasar tersebut. Namun dalam pernyataan terbaru, ia mengaku tidak mengetahui detail mengenai serangan yang terjadi.
"Saya tidak tahu tentang itu," kata Trump dalam laporan Al Jazeera.
Ia kemudian menambahkan bahwa pemerintah AS sempat mengira serangan itu dilakukan oleh Iran karena menurutnya negara tersebut dikenal tidak akurat dalam penggunaan amunisi.
Trump juga menolak pendapat para analis militer yang menyatakan bahwa Amerika Serikat merupakan satu-satunya negara yang memiliki rudal Tomahawk. Ia mengklaim bahwa rudal tersebut merupakan senjata yang cukup umum dan telah dijual kepada sejumlah negara lain.
Namun fakta menunjukkan bahwa meskipun Amerika Serikat memang menjual rudal Tomahawk kepada beberapa sekutu dekatnya, Iran berada di bawah sanksi berat Washington sehingga tidak dapat membeli senjata dari AS.
Sikap Trump juga tidak sepenuhnya didukung oleh sejumlah pejabat Amerika Serikat lainnya.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memilih untuk tidak mendukung klaim Trump. Ia menegaskan bahwa Pentagon masih melakukan penyelidikan terhadap insiden tersebut.
Sementara itu, Senator Partai Republik John Kennedy yang dikenal sebagai sekutu Trump bahkan menyatakan bahwa Amerika Serikat kemungkinan berada di balik serangan tersebut.
Kennedy mengatakan bahwa berdasarkan penilaiannya, insiden tersebut kemungkinan merupakan sebuah kesalahan yang sangat serius.
"Kami sedang menyelidiki, tetapi saya tidak akan bersembunyi di balik itu. Saya pikir itu adalah kesalahan yang sangat, sangat buruk," ujarnya.
Meski demikian, Kennedy tidak menjelaskan secara rinci sumber penilaiannya. Ia hanya menambahkan bahwa dirinya sangat menyesali kejadian tersebut karena korban yang meninggal merupakan anak-anak.
Peristiwa di Minab juga memicu tekanan politik di Washington. Hampir seluruh senator dari Partai Demokrat mengirimkan surat kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Dalam surat tersebut, mereka menuntut penjelasan mengenai bagaimana langkah-langkah mitigasi terhadap korban sipil diterapkan dalam operasi militer tersebut.
Selain itu, para senator juga meminta penjelasan mengenai apakah teknologi kecerdasan buatan turut digunakan dalam proses pemilihan target serangan.
Berbagai laporan investigasi, analisis media internasional, serta penyelidikan internal militer Amerika Serikat menunjukkan adanya indikasi kuat bahwa serangan yang menewaskan ratusan siswi di Minab berkaitan dengan operasi militer AS.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




