Sebut Perang Iran Ulah Israel, Direktur Kontraterorisme AS Mundur
Selasa, 17 Maret 2026 | 21:42 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintahan Presiden Donald Trump diguncang pengunduran diri tingkat tinggi di tengah berkecamuknya perang dengan Iran. Joe Kent, Direktur Pusat Kontra-terorisme Nasional (NCTC), resmi menanggalkan jabatannya pada Selasa (17/3/2026).
Langkah ini diambil sebagai bentuk protes keras atas kebijakan militer AS di Timur Tengah, di mana ia secara terbuka menyatakan bahwa dirinya "tidak dapat dengan hati nurani yang bersih" mendukung perang yang dilancarkan oleh pemerintahan Trump. Pernyataan Kent yang diunggah melalui media sosial langsung memicu perdebatan panas di Capitol Hill.
Disebutkan AP, Kent mengeklaim bahwa Iran sebenarnya "tidak memberikan ancaman mendesak bagi bangsa kita".
Lebih jauh lagi, ia melontarkan tuduhan sensitif dengan menyebut bahwa perang ini meletus semata-mata karena "tekanan dari Israel dan lobi Amerika-nya yang sangat kuat".
“Saya tidak dapat dengan hati nurani yang baik mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran. Iran tidak menimbulkan ancaman langsung bagi negara kita, dan jelas bahwa kita memulai perang ini karena tekanan dari Israel dan lobi Amerika yang kuat,” tuduhnya.
Pernyataan ini sangat mengejutkan mengingat Kent sebelumnya dipandang sebagai sosok yang sangat loyal terhadap agenda politik Trump. Pengunduran diri ini mencerminkan keresahan yang mulai menjalar di basis pendukung Trump sendiri.
Sebagai kepala NCTC, Kent bertanggung jawab atas analisis dan deteksi ancaman teroris global. Mundurnya seorang pejabat senior di posisi kunci seperti ini menunjukkan bahwa pertanyaan mengenai keabsahan penggunaan kekuatan militer di Iran kini telah merambah hingga ke lingkaran dalam intelijen dan faksi sayap kanan yang menjadi pilar kekuasaan Trump.
Hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih maupun kantor Direktur Intelijen Nasional, Tulsi Gabbard, belum memberikan tanggapan resmi mengenai mundurnya Kent. Presiden Trump sendiri terus memberikan alasan yang berubah-ubah mengenai motivasi serangan tersebut, sambil menangkis tuduhan bahwa langkahnya didikte oleh Israel.
“Namun, pernyataan sebelumnya dari Ketua DPR Mike Johnson justru memperkuat spekulasi bahwa Gedung Putih merasa terjepit oleh tekad Israel untuk bertindak sendirian,” sebut AP.
Rekam jejak Joe Kent sendiri memang penuh warna dan kontroversial. Sebelum menjabat, ia adalah mantan anggota pasukan elit Green Beret dengan 11 kali masa penugasan militer dan sempat bekerja di CIA. Meskipun memiliki kualifikasi intelijen yang dipuji oleh senator Partai Republik seperti Tom Cotton, Kent sering dikritik oleh faksi Demokrat karena kedekatannya dengan kelompok sayap kanan radikal dan keterlibatannya dalam penyebaran berbagai teori konspirasi politik.
Konflik internal ini terjadi di saat situasi di lapangan semakin membingungkan. Sementara Israel terus mengeklaim kemenangan dengan tewasnya tokoh-tokoh seperti Ali Larijani, mundurnya pejabat intelijen sekelas Kent justru menimbulkan pertanyaan besar bagi publik Amerika: apakah data intelijen yang digunakan untuk menyerang Iran memang akurat, atau hanya sebuah keputusan politik yang dipaksakan?
Keluarnya Kent dari lingkaran kekuasaan diprediksi akan memperlemah posisi tawar Trump dalam mempertahankan dukungan publik terhadap perang. Jika seorang ahli kontra-terorisme yang ia tunjuk sendiri merasa bahwa perang ini tidak dapat dibenarkan, maka tekanan terhadap administrasi Trump untuk segera mengakhiri konflik di Selat Hormuz akan semakin besar, baik dari pihak lawan politik maupun dari dalam barisannya sendiri.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




