Kunjungi Korban Banjir Tambun, Wapres Gibran Soroti Bantuan Terlambat
Senin, 19 Januari 2026 | 17:32 WIB
Bekasi, Beritasatu.com – Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, meninjau langsung kondisi pengungsi terdampak banjir di Pendopo Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan, Desa Srimukti, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Senin (19/1/2026) siang.
Dalam kunjungan tersebut, Wapres menyerap aspirasi warga yang mengeluhkan minimnya bantuan logistik meski bencana telah memasuki hari kedua. Gibran tampak berdialog dengan para pengungsi yang mayoritas terdiri dari ibu rumah tangga dan anak-anak.
Mendengar laporan bahwa ratusan warga belum tersentuh bantuan makanan dan obat-obatan, Gibran menegaskan akan segera mengirimkan kebutuhan dasar bagi para korban. Ia juga menginstruksikan jajaran pemerintah daerah untuk lebih proaktif di lapangan.
“Setelah ini makanan dan obat-obatan akan kita kirim. Masalah sungai nanti akan kita lakukan normalisasi, akan kita koordinasikan. Kita minta para pemimpin daerah turun langsung ke lapangan untuk membantu korban banjir, terutama anak-anak,” ujar Gibran dalam arahannya.
Selain penanganan darurat, Wapres menekankan pentingnya koordinasi lintas kementerian untuk menuntaskan akar masalah banjir di wilayah Bekasi. Salah satu poin utamanya adalah kelanjutan proyek infrastruktur air.
Perwakilan warga sekaligus tokoh agama setempat, KH Suhaedi, menyampaikan bahwa warga sangat mendambakan pengerukan sungai yang selama ini menjadi penyebab utama banjir kiriman.
“Keluhannya banyak, terutama belum dapat sembako di hari kedua. Di sini pengungsi sekitar 300 orang. Kami juga meminta proyek normalisasi sungai Bekasi dan Cikarang Bekasi Laut dilanjutkan, karena kali CBL belum pernah dikeruk sejak dibangun,” ungkap Suhaedi.
Warga berharap pemerintah pusat tidak hanya memberikan bantuan sementara, tetapi juga segera membangun turap dan melanjutkan proyek tanggul beton di sepanjang Kali Bekasi agar banjir tidak menjadi agenda tahunan.
Secara geografis, Kecamatan Tambun Utara merupakan wilayah rawan karena diapit oleh dua aliran sungai besar, yakni Sungai Cikarang Bekasi Laut (CBL) dan Sungai Bekasi.
Banjir kali ini dipicu oleh intensitas hujan tinggi serta luapan air kiriman dari wilayah Bogor yang melampaui kapasitas sungai. Di beberapa titik, ketinggian air dilaporkan mencapai hampir dua meter, yang memaksa warga meninggalkan rumah mereka menuju posko pengungsian.
Langkah konkret dari sinergi pemerintah pusat dan daerah kini dinanti masyarakat untuk merealisasikan solusi jangka panjang guna meminimalisasi risiko bencana di masa depan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




