ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Perang Iran vs AS Berlanjut, Pabrik Tahu di Tegal Bisa Gulung Tikar

Jumat, 3 April 2026 | 09:33 WIB
FH
MA
Penulis: Fikri Hidayatulloh | Editor: MA
Perajin tahu dan tempe di wilayah Kota dan Kabupaten Tegal menghadapi tekanan berat akibat kenaikan harga kedelai impor asal Amerika Serikat (AS).
Perajin tahu dan tempe di wilayah Kota dan Kabupaten Tegal menghadapi tekanan berat akibat kenaikan harga kedelai impor asal Amerika Serikat (AS). (Beritasatu.com/Fikri Hidayatulloh)

Tegal, Beritasatu.com – Perajin tahu dan tempe di wilayah Kota dan Kabupaten Tegal menghadapi tekanan berat akibat kenaikan harga kedelai impor asal Amerika Serikat (AS). Lonjakan harga ini dipicu dampak konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, Kamis (2/4/2026).

Kedelai, yang mayoritas sampai saat ini masih diimpor dari AS, merupakan bahan baku utama dalam produksi tahu. Kenaikan harga komoditas itu memaksa para perajin untuk mencari strategi agar usaha mereka tetap berjalan.

Salah satu langkah yang diambil adalah mengurangi ukuran produk tahu yang dijual ke masyarakat. Upaya itu dipilih guna menekan biaya produksi imbas kenaikan harga bahan baku.

ADVERTISEMENT

Berbeda dengan tahu, tempe dinilai lebih fleksibel karena bahan bakunya dapat dicampur dengan bahan lain. Sementara itu, proses pembuatan tahu membutuhkan sari pati kedelai murni yang melalui tahapan perebusan dan penggilingan, sehingga sulit untuk dicari penggantinya.

Budiyanto, perajin tahu di Kelurahan Slerok, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal, mengungkapkan harga kedelai impor saat ini telah mengalami kenaikan signifikan.

"Harga kedelai impor asal Amerika kini dijual Rp 10.100 per kilogram, dari harga sebelumnya Rp 8.600 per kilogram. Harga kedelai diperkirakan akan kembali naik karena perang belum usai,” kata Budiyanto.

Kenaikan harga ini membuat para perajin semakin khawatir terhadap keberlangsungan usaha mereka. Jika konflik global terus berlanjut, harga kedelai diprediksi akan semakin melonjak dan berpotensi mengancam industri tahu yang telah bertahan selama bertahun-tahun.

Para perajin pun berharap konflik segera berakhir agar harga kedelai kembali stabil dan usaha mereka dapat terus berjalan tanpa tekanan biaya yang semakin berat.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon