Mengenal TB Ginjal, Penyakit yang Diidap Lucky Widja sebelum Meninggal
Senin, 26 Januari 2026 | 09:10 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Kabar duka datang dari industri musik Indonesia, Lucky Widja vokalis ben Element meninggal dunia dalam usia 49 tahun. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Lucky diketahui berjuang melawan penyakit tuberkulosis (TB) ginjal. Penyakitnya ini ia ungkap kepada publik sekitar 2023.
"Gue kena sakit agak aneh, sangat jarang sebenarnya, gue kena TB ginjal. TB itu macam-macam, ada TBC darah, masuk ke otak, getah bening, organ. Masuknya tetap sama lewat hidung," ungkap Lucky dikutip dari YouTube Ferdy Element yang diunggah pada 2023.
Menurut laporan World Health Organization (WHO) sekitar 9 juta orang di seluruh dunia menderita tuberkulosis ginjal. Sistem kekebalan tubuh yang lemah sehingga tak dapat menoleransi infeksi, menyebabkan tuberkulosis ginjal.
Tuberkulosis (TB) ginjal adalah penyakit yang sering diabaikan dan berpotensi fatal. Maka dari itu, memahami informasi detail tentang penyakit tuberkulosis ginjal penting untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang terdekat kita.
Apa Itu TB Ginjal?
Mengutip laman resmi Narayana Health dan Healthline, Senin (26/1/2026), tuberkulosis ginjal adalah infeksi serius yang sulit didiagnosis. Penyakit ini biasanya muncul karena disebabkan oleh bakteri yang masuk ke dalam tubuh melalui luka di kulit atau luka di mulut atau hidung.
Bakteri penyebab tuberkulosis ginjal (atau TB ginjal) adalah anggota kompleks dari mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini berbeda dari mikobakteri lingkungan yang hidup bebas, karena merupakan patogen obligat dan memiliki persyaratan pertumbuhan yang rumit. Mycobacterium tuberculosis lebih suka berkembang biak di beberapa tempat, yaitu ginjal, epididimis, tuba fallopi, dan otak, dan menghasilkan lesi lokal yang disebut granuloma. Selain itu, bakteri ini juga menyebabkan kerusakan glomerulus dan interstisium medula, dan menginfeksi papila ginjal meski cukup jarang.
Gejala TB Ginjal
Tidak ada gejala awal tuberkulosis ginjal, dan tak semua pengidap TB ginjal memiliki gejala. atau gejala sampai mereka didiagnosis. Gejala klinis TB urogenital bersifat samar dan sulit didiagnosis serta diobati. Penderita yang memiliki gejala mungkin mengalami gejala berikut ini:
- Demam terus-menerus.
- Penurunan berat badan.
- Keringat malam.
- Disuria.
- Piuria steril.
- Hematuria.
- Nyeri pinggang atau perut.
- Nokturia (kencing berlebihan pada malam hari).
- Ada darah dalam urine.
- Nyeri atau rasa tidak nyaman di bagian samping tubuh.
- Nyeri saat buang air kecil.
Gejala-gejala ini juga dapat dikaitkan dengan massa genital atau nyeri panggul, kesulitan buang air kecil, dan kolik perut. Selain itu, pasien dapat mengalami nefritis interstisial dan basil tahan asam, yang bisa diidentifikasi melalui tes.
Penyebab TB Ginjal
Tuberkulosis ginjal disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis dan merupakan salah satu bentuk TB yang paling umum. Biasanya berkembang pada orang dewasa, tetapi TB ginjal juga bisa menyerang anak-anak. Umumnya, pengidap tuberkulosis paru lebih besar berpeluang terserang TB ginjal, karena TB paru dapat menyebar ke ginjal melalui jalur limfatik atau hematogen. Selain itu, jika basil telah dipindahkan dari paru-paru oleh obat anti-TB, basil tersebut dapat menyebar ke ginjal melalui aliran darah.
Diagnosis TB Ginjal
Ginjal merupakan lokasi umum infeksi tuberkulosis (TB). Risiko penyakit ginjal meningkat secara signifikan pada orang yang mengalami imunosupresi, termasuk individu yang menjalani dialisis atau cuci darah, seperti yang dijalani oleh mendiang Lucky Widja dan penerima transplantasi ginjal.
Namun, mendiagnosis tuberkulosis ginjal memang cukup sulit dan harus melibatkan penggunaan tes mikrobiologis untuk mengidentifikasi organisme penyebab dari urine atau bahan biopsi pada media padat konvensional. Metode yang biasanya dilakukan untuk mendiagnosis TB ginjal yakni:
- Pencitraan
Computerized tomography (CT) scan adalah teknik pencitraan yang paling bisa diandalkan untuk mendiagnosis tuberkulosis ginjal, karena cara ini membantu mengidentifikasi keberadaan granuloma atau abses dan untuk mengevaluasi lokasinya. Ini juga berguna dalam mendeteksi komplikasi tuberkulosis lainnya.
- Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI dapat membantu mendeteksi pertumbuhan tuberkuloma, yang dapat membantu memilih obat antituberkulosis yang tepat dan memastikan efektivitas obat.
- Tes Lainnya
TB ginjal dapat didiagnosis menggunakan berbagai tes klinis, mikrobiologis, molekuler, dan pencitraan seperti sinar-X dan USG, yang dapat membantu menentukan lokasi infeksi, memperoleh sampel jaringan untuk diagnosis, perencanaan obat atau bedah, dan memantau respons pasien terhadap pengobatan.
Pengobatan TB Ginjal
Pengobatan untuk tuberkulosis ginjal meliputi antibiotik dan obat-obatan lainnya. Jika penyakit ini diabaikan dan tidak diobati, dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti gagal ginjal atau kematian.
Teknik perawatan yang pertama adalah dengan konsumsi obat-obatan. Obat antituberkulosis adalah jenis pengobatan yang paling umum untuk tuberkulosis ginjal. Obat-obatan ini membantu melawan infeksi dengan membunuh bakteri penyebabnya. Obat-obatan ini meliputi, ethambutol, isoniazid, pyrazinamide, dan rifampicin. Obat-obat tersebut membantu menghentikan pertumbuhan bakteri penyebab infeksi dan membunuhnya.
Selanjutnya, penanganan TB ginjal bisa dengan operasi. Beberapa orang dengan TB ginjal yang kompleks umumnya akan menjalani operasi. Operasi TB ginjal melibatkan pengangkatan jaringan atau bagian tubuh yang terinfeksi (nefrektomi).
Potensi Komplikasi TB Ginjal
Jika tidak diobati, TB ginjal bisa memicu kerusakan struktural pada ginjal yang pada akhirnya dapat mengakibatkan gagal ginjal. Namun, antibiotik TB biasanya sangat efektif dalam mencegah komplikasi. Oleh karena itu, pasien TB ginjal harus menyelesaikan pengobatan sesuai resep dokter dan tidak melewatkan pemeriksaan lanjutan rutin.
Pencegahan TB Ginjal
Pencegahan tuberkulosis ginjal dimulai dengan diagnosis dini yang bisa didapatkan hanya dengan pemeriksaan rutin untuk TB pada orang-orang yang memiliki faktor risiko penyakit ini, seperti individu dengan riwayat TB yang panjang atau sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Tuberkulosis ginjal merupakan infeksi serius yang sulit didiagnosis. Jika menderita penyakit kronis ini, maka harus berkonsultasi dengan ahli nefrologi, untuk mendiskusikan semua pilihan pengobatan yang mungkin dijalani.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




