Tren Makan Pakai Plastik demi Badan Ideal, Waspadai Risikonya
Selasa, 24 Februari 2026 | 18:18 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Tren makan pakai plastik atau plastic wrapped eating tengah viral di TikTok dan memicu kekhawatiran. Dalam tren ini, seseorang membungkus mulut dengan plastik cling wrap, lalu memasukkan makanan tanpa ditelan.
Dilansir dari NDTV, Selasa (24/2/2026), tren viral asal China ini dilakukan dengan melapisi mulut menggunakan plastik tipis, kemudian makanan dikunyah kuat-kuat tanpa ditelan. Setelah itu, makanan dikeluarkan kembali dari mulut.
Metode ini dipromosikan sebagai cara “tanpa kalori” untuk merasakan sensasi makan tanpa benar-benar mengonsumsi makanan. Pelaku tren mengeklaim cara tersebut bisa mengirim sinyal kenyang ke otak dan membantu menurunkan berat badan.
Sekilas terlihat seperti trik diet unik dan ekstrem. Namun, di balik klaim “bebas kalori”, tren ini menyimpan berbagai potensi bahaya kesehatan.
Group Director Gastroenterology di Yatharth Super Specialty Hospital, Faridabad, India, Kapil Sharma menegaskan, mengunyah makanan tanpa menelan tidak akan memberikan efek signifikan terhadap penurunan berat badan.
“Supaya kalori bisa diproses oleh tubuh, makanan harus masuk ke dalam sistem pencernaan. Tidak ada hubungan antara mengunyah sesuatu tanpa memakannya dengan perubahan keseimbangan energi atau lemak tubuh,” kata Kapil Sharma, dikutip dari Times of India, Selasa (24/2/2025).
Menurutnya, pengaturan berat badan jauh lebih kompleks dibandingkan rumus sederhana “makan lebih sedikit, berat badan turun” yang sering dipromosikan dalam konten viral.
Selain tidak efektif, praktik ini juga dinilai berisiko. Dr Sharma menyebut adanya “risiko nyata”, termasuk kemungkinan tersedak serta paparan mikroplastik.
Plastik wrap dapat melepaskan partikel kecil yang tidak dirancang untuk masuk ke dalam tubuh. Paparan berulang bisa mengiritasi saluran pencernaan dan meningkatkan kontak dengan zat kimia berbahaya.
Selain itu, aksi yang terlihat seperti hiburan media sosial ini sebenarnya dapat memicu gangguan kesehatan.
Ia menegaskan, trik cepat yang viral di internet tidak dapat menggantikan pola makan seimbang, olahraga teratur, dan kebiasaan makan yang sadar (mindful eating).
Selain risiko fisik, tren diet makan pakai plastik juga dikhawatirkan berdampak pada kesehatan mental.
Psikolog klinis Munia Bhattacharya mengatakan perilaku mengunyah lalu membuang makanan mirip dengan pola gangguan makan.
Kebiasaan ini dapat melatih otak untuk mengaitkan makan dengan rasa bersalah dan ketakutan. Dalam jangka panjang, hal tersebut bisa mengganggu sinyal lapar alami serta memicu pikiran obsesif terkait makanan dan citra tubuh.
Menurutnya, tren seperti ini menciptakan ilusi kendali yang berbahaya, terutama bagi remaja dan individu yang rentan terhadap gangguan makan. Ketika aktivitas makan berubah menjadi pertunjukan demi konten, bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, itu menjadi sinyal adanya masalah yang lebih dalam.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




