CSIS Ajak Masyarakat Pilih Pemimpin Peduli Kualitas Udara
Kamis, 2 November 2023 | 05:48 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Center for Strategic and International Studies (CSIS), sebuah institusi peneliti kebijakan, mengajak masyarakat untuk memilih pemimpin yang memiliki kepedulian terhadap isu kualitas udara, khususnya polusi yang disebabkan oleh emisi karbon.
Peneliti politik dan perubahan sosial di CSIS, Edbert Gani Suryahudaya, menyatakan bahwa meskipun kesadaran masyarakat terhadap polusi udara semakin meningkat, komitmen sektor politik terhadap isu ini masih kurang memadai.
"Politisi dan pembuat kebijakan kita masih sedikit yang memiliki kesadaran terhadap isu polusi udara. Tergantung pada mereka yang memiliki akses, kekuasaan, dan pengaruh relatif," ujar Gani di Jakarta pada Rabu (1/11/2023) seperti dikutip dari Antara.
"Para politisi yang ingin memfokuskan pada isu ini pantas untuk mendapatkan perhatian," lanjutnya.
Gani menganggap bahwa isu polusi udara saat ini masih kurang diperhatikan dalam diskusi politik dibandingkan dengan isu-isu lain seperti lapangan kerja dan kebutuhan dasar. Namun, dia melihat adanya potensi peningkatan kesadaran terutama di kalangan masyarakat kelas menengah perkotaan seiring dengan munculnya dampak buruk polusi udara yang semakin nyata.
"Jika kita melihat secara umum, isu polusi udara kemungkinan akan semakin mendapatkan perhatian dari masyarakat ke depan. Namun, dari pemerintah, kesadaran terhadap isu polusi udara masih minim, karena politisi dan pembuat kebijakan kita masih sedikit yang memiliki kesadaran terhadap isu ini," ungkap Gani.
Menurut Gani, langkah pertama yang harus diambil adalah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan. Ketika isu lingkungan menjadi perhatian umum di kalangan masyarakat, politisi tidak akan memiliki pilihan selain untuk mengambilnya dengan serius.
Gani menekankan pentingnya memobilisasi dan mengubah pola pikir serta pandangan masyarakat terhadap hak mereka terhadap udara bersih.
Menurutnya, ketika kesadaran masyarakat tentang hak atas udara bersih semakin umum, politisi dan pembuat kebijakan publik pasti harus mengadopsinya sebagai kebijakan. Jika tidak, mereka tidak akan mendapatkan dukungan.
Dia menyatakan bahwa urgensi politisi dan pembuat kebijakan terkait polusi udara masih minim tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa topik ini bisa menjadi lebih penting di masa depan.
Selanjutnya, Gani menegaskan pentingnya memengaruhi lanskap politik. Dia berpendapat bahwa Pemilu 2024 merupakan peluang besar, terutama dengan bertambahnya jumlah pemilih muda dan pemula. Oleh karena itu, dia mendorong para tokoh yang memiliki pengaruh dan kekuatan tawar untuk menjadikan isu kualitas udara sebagai topik utama dalam diskusi politik.
"Yang terpenting adalah bagi mereka yang ingin memperjuangkan isu polusi udara, harus memikirkan bagaimana memberikan insentif politik kepada para pembuat kebijakan," ujar Gani.
"Jadi, bukan hanya tugas kita sendiri untuk memperjuangkan udara bersih, tetapi tugas semua pihak, karena udara yang kita hirup adalah sama bagi semua, baik masyarakat umum, elite, politisi, maupun pengusaha," tambahnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




