Ekonom Bicara Target Danantara Sumbang APBN Rp 700 Triliun pada 2029
Senin, 18 Agustus 2025 | 15:09 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Prabowo menargetkan keseimbangan anggaran (balance budget) terjadi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di akhir periode pemerintahannya pada 2029. Salah satu penopang agar APBN tanpa defisit itu diharapkan berasal dari Danantara yang ditargetkan bisa menyumbang Rp 700 triliun.
"Pak Prabowo minta pada 2029 nanti di akhir periodenya, APBN bisa balance budget. Artinya Danantara kan sudah dibiarkan untuk menginvestasikan lagi duitnya dan diharapkan sumbang sampai Rp 700 triliun," ungkap Ekonom sekaligus Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Riandy Laksono, di Jakarta, Senin (18/8/2025).
Riandy menilai, target tersebut tidak realistis. Menurutnya, APBN tidak perlu balance budget. Selama Indonesia bisa menjaga defisit APBN tetap di bawah 3% dan rasio utang negara di bawah konvensi 60% dari produk domestik bruto (PDB), perekonomian nasional dinilai aman.
"Kita enggak perlu balance budget. Artinya kita masih bisa hidup dengan defisit APBN. Namun, defisit APBN-nya dijaga dengan sangat berhati-hati, di bawah 3% dan utang juga di bawah konvensi, yaitu sekitar 60% dari PDB. Selama kita bisa mengolah itu, kita masih aman," jelasnya.
Menurut Riandy, ada sejumlah kesulitan untuk mencapai target tersebut yakni tantangan dalam meningkatkan penerimaan negara, namun di saat yang bersamaan juga dihadapi dengan tantangan memangkas belanja belanja.
"Masalahnya adalah semampu apa kita meningkatkan penerimaan, kan masalahnya di situ. Kalau pengeluaran, udah pasti enggak ada yang mau dikurangi, belanja pertahanan, pendidikan, subsidi, less likely Prabowo akan retract subsidi-nya. Satu-satunya cara kan berarti naikin penerimaan," ungkapnya.
Namun, Riandy mengungkapkan, banyak faktor pendorong penerimaan negara yang saat ini terhambat berbagai gejolak geopolitik dan perekonomian dunia. Akibatnya, investasi juga kini tak lagi bisa menjadi tumpuan utama.
"Jadi karena uncertainty dari sisi global, jadinya investasi juga mesinnya enggak terlalu gencar lagi ke depan. Nah di sini menurut saya maka jadinya sumber penerimaan pun jadi makin mengering. Di sini letak tidak realistis-nya," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




