Bulog Mendorong Pemberdayaan Perempuan dalam Mata Rantai Pangan Menuju Ketahanan Pangan
Kamis, 20 Juni 2024 | 10:49 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Dalam upaya mencapai ketahanan pangan global, peran perempuan dalam mata rantai pangan semakin diakui sebagai elemen kunci yang tidak dapat diabaikan. Menyadari hal tersebut dan sesuai dengan visi transformasi Perum Bulog, saat ini lebih dari 25 persen karyawan Perum Bulog adalah perempuan.
Direktur Transformasi& Hubungan Antar Lembaga Perum Bulog Sonya Mamoriska, mengatakan Perum Bulog percaya bahwa dengan meningkatkan kapasitas dan peluang perempuan, dapat tercipta sistem distribusi pangan yang terpercaya dengan layanan prima serta lebih berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia.
“Hal ini sejalan dengan visi-visi transformasi Perum Bulog. Saat ini, ada lebih dari 20 perempuan menempati jabatan pucuk pimpinan wilayah dan manajerial Perum Bulog di Indonesia,” ujar Sonya.
Dalam penelitian terbaru menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam sektor pertanian dan pangan memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan produktivitas, keamanan pangan, dan kesejahteraan komunitas.
“Keterlibatan perempuan secara aktif dalam mata rantai pangan adalah kunci untuk mencapai ketahanan pangan global. Dengan memberdayakan perempuan dan mengatasi tantangan yang mereka hadapi, kita dapat meningkatkan produktivitas pertanian, memastikan ketersediaan pangan dengan sistem distribusi yang baik dan menciptakan sistem pangan berkelanjutan melalui pengolahan yang tidak menyebabkan mubazir pangan,” tegas pengamat ekonomi hijau dan kandidat Doktor di IPB Stania Puspawardhani.
Perempuan berkontribusi secara substansial dalam mata rantai pangan di seluruh dunia. Mereka terlibat dalam berbagai tahap produksi, mulai dari penanaman, pemanenan, pengolahan, distribusi hingga konsumsi. Di banyak negara berkembang, perempuan sering kali menjadi tulang punggung pertanian keluarga, memainkan peran penting dalam memastikan ketersediaan pangan bagi keluarga dan komunitas mereka.
Namun seringkali perempuan dihadapkan dengan berbagai tantangan pada industri pertanian, termasuk akses terbatas terhadap sumber daya, pendidikan, teknologi, dan pembiayaan. Diskriminasi gender dan norma sosial juga kerap menghambat partisipasi penuh mereka dalam sektor ini.
Pendiri & Direktur NUSA Gastronomy Foundation Meilati Batubara, mengatakan, perempuan memiliki posisi strategis dalam memastikan ketahanan pangan.
“Di rumah tangga, perempuan memiliki peran penting dalam pengolahan dan ketersediaan pangan. Bagaimana makanan tersebut bisa didapat sampai agar makanan yang diolah tersebut tidak mubazir. Masih bertahannya sejumlah kuliner tradisional khas daerah, juga karena peran perempuan dalam tetap mencari serta mengolah bahan-bahan khas kuliner daerah tersebut, bila tidak, bisa dipastikan kuliner tradisional tersebut akan punah,” kata Meilati.
Dengan memberdayakan perempuan, tidak hanya produktivitas pertanian yang meningkat, tetapi juga ketahanan pangan keluarga dapat ditingkatkan. Penelitian menunjukkan bahwa jika perempuan petani memiliki akses yang setara dengan laki-laki terhadap sumber daya pertanian, hasil panen dapat meningkat sebesar 20-30 persen, yang dapat mengurangi jumlah orang yang kelaparan di dunia hingga 150 juta orang.
“Kontribusi perempuan tidak hanya membantu dalam memastikan bahwa makanan sampai ke konsumen, tetapi juga berkontribusi besar pada ketahanan dan keberlanjutan pangan, termasuk meningkatkan efisiensi rantai pasokan pangan. Kami terus mendukung keterlibatan peran perempuan sebagai agen perubahan dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan,” tutup Sonya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




