Pedagang Bantah Kelangkaan Beras, Satgas Pangan Ungkap Manipulasi Data
Kamis, 5 Juni 2025 | 07:08 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Klaim kelangkaan beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) yang disampaikan Ketua Koperasi Pedagang Beras Cipinang, Zulkifli Rasyid dibantah oleh para pedagang dan Satuan Tugas (Satgas) Pangan Mabes Polri.
Hasil investigasi lapangan yang dilakukan Satgas Pangan justru menemukan pasokan dalam kondisi normal dan mencukupi, serta dugaan adanya manipulasi data distribusi beras.
Investigasi yang dilakukan pada Rabu (4/6/2025) dan dipimpin langsung oleh Brigjen Pol Djoko Prihadi dan Brigjen Pol Kurniawan Affandi mengungkap sejumlah kejanggalan dalam pencatatan stok dan distribusi beras di PIBC.
Satgas menilai narasi kelangkaan yang digaungkan Zulkifli tidak berdasar dan berpotensi menyesatkan opini publik.
Data Tidak Valid dan SOP Lemah
Salah satu temuan utama adalah ketidaksesuaian data pengeluaran beras yang dilaporkan. Angka pengeluaran 11.410 ton beras pada 28 Mei 2025 yang dipajang dalam panel informasi stok tidak berasal dari penghitungan riil.
Data tersebut dihasilkan dari penjumlahan dan pengurangan administratif, bukan observasi faktual di lapangan.
“Pengeluaran riil dan terverifikasi hanya 2.368 ton. Sisanya manipulatif,” ungkap perwakilan Satgas dalam pernyataan resmi mereka, dikutip Beritasatu.com pada Kamis (5/6/2025).
Adapun temuan lainnya, yaitu:
- Tidak ada SOP resmi terkait stock opname di PIBC.
- Stock opname terakhir dilakukan pada Oktober/November 2023, dan baru kembali dilakukan pada Mei 2025 atas perintah pimpinan.
- Distribusi dengan kendaraan pribadi, seperti mobil, motor, dan bajaj tidak tercatat.
- Data yang digunakan berdasarkan laporan toko, bukan hasil pemeriksaan langsung.
Stok di Tiga Toko Besar Masih Cukup
Satgas juga melakukan pengecekan langsung ke tiga toko beras besar, yakni Idolaku, Sumber Raya, dan Sinar Jaya. Ketiganya menyatakan pasokan beras mereka masih stabil dan tidak ada lonjakan distribusi pada 28 Mei 2025 sebagaimana klaim sebelumnya.
Di toko Idolaku, stok beras mencapai kurang lebih 500 ton, sementara di Sumber Raya mencapai sekitar 300-400 ton. Kemudian, toko Sinar Jaya masih memiliki sekitar 200 ton beras.
Kenaikan harga beras medium pun hanya berkisar antara Rp 100-Rp 400 per kg, angka yang dianggap masih dalam batas kewajaran pasar.
Satgas Sebut Ada Unsur Sabotase
Satgas Pangan menilai manipulasi data ini bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan indikasi kuat adanya sabotase terhadap distribusi pangan nasional.
“Data dimainkan. Ini bukan kelalaian teknis, ini bisa dikategorikan sebagai sabotase terhadap distribusi dan pencapaian ketahanan pangan negara,” tegas Satgas Pangan.
Investigasi juga mengarah pada dugaan praktik percaloan dan monopoli yang bisa menekan pasar serta memengaruhi psikologis masyarakat.
Proses pendalaman terhadap pengelolaan data dan distribusi oleh PT Food Station Tjipinang Jaya masih terus dilakukan.
Satgas Pangan memastikan akan mengawasi secara ketat dinamika pasokan dan harga beras di pasaran. Jika ditemukan bukti kuat mengenai tindakan manipulatif yang merugikan negara dan masyarakat, langkah hukum tegas akan segera diambil.
Sebelumnya, Ketua Koperasi Pasar Induk Beras Cipinang (KKPIBC), Zulkifli Rasyid menyarankan agar pemerintah segera mendistribusikan kembali stok beras impor sebanyak 1,3 juta ton yang masih tersimpan di gudang Bulog.
“Kami sungguh sangat berharap sama pemerintah, di dalam posisi kita yang sedang bagus seperti ini, penyerapan Bulog banyak. Alangkah baiknya Bapak itu mempunyai inisiatif untuk mengeluarkan beras impor yang sudah cukup lama di gudang,” kata Zulkifli.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




