Zulhas: Oplos Beras Sah, Asal Jangan Tipu Rakyat!
Kamis, 21 Agustus 2025 | 20:28 WIB
Surabaya, Beritasatu.com - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan, praktik mencampur jenis beras atau dikenal sebagai pengoplosan beras bukanlah hal yang dilarang, selama dilakukan secara jujur dan transparan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Konsolidasi Program Prioritas Pangan, yang digelar di Gedung Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Jalan Pahlawan, Surabaya, Kamis (21/8/2025).
“Saya bilang nyampur (beras) itu tidak apa-apa, yang tidak boleh itu bohong. Dari dahulu memang begitu. Seperti beras ketan dicampur biar pulen, biasa saja,” ujar Menteri Zulhas.
Menurutnya, yang menjadi persoalan bukan pada tindakan mencampur beras, melainkan pemalsuan informasi mengenai kualitas beras, khususnya dalam penjualan beras premium.
Zulhas menyoroti praktik kecurangan di lapangan, di mana beras dengan kadar broken rice (beras patah) hingga 50% dipasarkan sebagai beras premium. Padahal, menurut standar, kadar beras patah maksimal untuk kategori premium adalah 15%.
“Kalau broken-nya 30% tetapi diklaim hanya 15%, itu nipu. Banyak yang begitu. Jadi, yang ditindak polisi dan satgas itu kebohongannya, bukan nyampurnya,” tegasnya.
Zulkifli juga mengungkap masih ada kekhawatiran di kalangan pelaku distribusi untuk menyalurkan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) ke pasar tradisional. Hal ini disebabkan oleh maraknya kasus pengoplosan beras yang membuat citra distribusi beras SPHP menjadi negatif.
“Kemampuan packaging dan distribusi belum optimal, tadinya enggan masuk pasar karena takut dioplos,” ujarnya.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Zulhas telah menginstruksikan Bulog untuk mempercepat proses pengemasan dan distribusi beras SPHP.
Ia menyarankan agar pendistribusian dilakukan melalui Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) dan jaringan pasar tradisional di seluruh Indonesia.
“Sekarang baru 6.000 ton. Kalau 10.000 ton hanya menjangkau 300.000 penerima. Saya bilang itu kurang. Harusnya sehari bisa 30.000 packaging dan sebar,” kata Zulhas, menekankan perlunya kerja sama antara Bulog, Bapanas, dan Pos Indonesia untuk memperluas jangkauan distribusi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




