Dirjen Dikti: 22.000 Mahasiswa Terdampak Banjir Aceh, Sumut-Sumbar
Sabtu, 13 Desember 2025 | 13:39 WIB
Padang, Beritasatu.com - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menyebut sebanyak 22.000 mahasiswa dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terdampak langsung bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi tersebut.
"Dalam catatan terakhir itu ada sekitar 22.000 mahasiswa yang terdampak bencana ini," kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemendiktisaintek Khairul Munadi di Padang, Sabtu (13/12/2025).
Hal tersebut disampaikan Khairul Munadi di sela-sela penyerahan bantuan dari Kemendiktisaintek kepada mahasiswa Universitas Andalas (Unand) yang turut menjadi korban banjir bandang dan tanah longsor.
Khairul Munadi menjelaskan 22.000 mahasiswa yang terdampak itu dalam tahap atau kondisi yang bervariatif. Ada yang terkena langsung, kerusakan tempat tinggal hingga orang tuanya yang turut menjadi korban bencana.
"Adik-adik mahasiswa yang mengalami langsung bencana ini, seperti orang tuanya yang ikut terdampak akan berdampak pula pada pembiayaan pendidikan mereka," ujar dia dikutip dari Antara.
Dirjen Dikti mengatakan data tersebut belum bisa dikatakan valid karena saat ini beberapa perguruan tinggi di daerah terdampak bencana masih terus memperbaharui data. Di saat bersamaan sejumlah mahasiswa juga sudah berangsur kembali ke rumah masing-masing.
Ia memastikan Kemendiktisaintek akan terus hadir dan mengawal pendataan tersebut untuk memastikan setiap korban atau penyintas banjir bandang dan tanah longsor, khususnya mahasiswa mendapatkan bantuan sesuai skala prioritas yang ditetapkan.
Sementara itu, Rektor Unand Efa Yonnedi mengatakan sejak awal bencana terjadi perguruan tinggi tertua di luar Jawa itu langsung bergerak cepat dengan mendirikan posko tanggap darurat bagi civitas academica maupun masyarakat sekitar lingkungan kampus.
"Posko yang kita dirikan ini sangat bermanfaat bagi pusat distribusi logistik, alat kesehatan, obat-obatan dan sebagainya," ujar rektor Unand.
Bahkan, perguruan tinggi itu mengirimkan langsung beberapa dokter atau tenaga medis untuk membantu percepatan penanganan dampak bencana di Kabupaten Agam yang menjadi lokasi terparah di Ranah Minang.
Tidak hanya itu, Unand juga mendirikan posko komando medis di Kabupaten Agam yang menjadi hub atau semacam penghubung dengan perguruan tinggi lain di luar Sumbar dalam menangani dampak bencana.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




