Heboh Isu Fusi Nasdem dan Gerindra, Ini Konsekuensi Merger Parpol
Selasa, 14 April 2026 | 15:04 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Isu wacana fusi atau penggabungan antara Partai Nasdem dan Partai Gerindra mencuat ke publik. Guru besar ilmu politik FISIP Universitas Indonesia (UI) Aditya Perdana menilai banyak konsekuensi yang berpotensi timbul merger partai politik (parpol) ini terwujud, sehingga perlu dipertimbangkan secara matang.
"Fusi atau merger parpol itu kan ada banyak konsekuensi. Artinya ada konsekuensi, ada pertimbangan yang tentu menjadi bahan untuk dibicarakan diputuskan oleh partai politik ataupun dua partai itu ya, bukan hanya sebelah pihak," kata Aditya kepada wartawan, Selasa (14/4/2026).
Aditya menjelaskan, pada umumnya fusi maupun merger parpol didasari oleh adanya kesamaan platform, ideologi, hingga positioning dalam menyikapi suatu persoalan. Dia menilai perlu adanya argumen yang kuat untuk mendasari langkah penggabungan tersebut.
Baca Juga: Dikabarkan Merger dengan Gerindra, Waketum Nasdem: Hanya Fusi
Hanya saja, Aditya menyampaikan fusi maupun merger parpol bukan merupakan tren yang kerap terjadi pascareformasi. Namun, penggabungan partai bisa berpotensi memicu perpecahan, sehingga bisa melahirkan parpol-parpol baru. Ditambah lagi, akan banyak konsekuensi yang harus dipertimbangkan jika hendak menggabung suatu parpol.
"Konsekuensi-konsekuensi ini memang mereka harus timbang secara matang karena enggak mudah, karena nanti identitas hilang, ada yang gabung, terus kemudian siapa yang suaranya paling besar dia yang tentu harus punya logonya yang bisa dipakai, atau namanya lebih banyak dan sebagainya," ungkap Aditya.
Wakil Ketua Umum Partai Nasdem Saan Mustopa sempat menyebutkan sebetulnya wacana fusi suatu partai merupakan hal lazim, tetapi tak mudah diwujudkan. Khusus terkait diksi fusi, Aditya menjelaskan hal ini pernah terjadi ketika Orde Baru.
Baca Juga: Guyonan 'Koalisi Kilat' di DPR, Nasdem-Gerindra Bersahutan
Hanya saja, Aditya menegaskan fusi parpol saat Orde Baru lebih didasari pada adanya paksaan dari rezim penguasa ketika itu. Dia pun mempertanyakan niatan seperti apa yang dimiliki oleh Nasdem maupun Gerindra.
"Sementara yang ingin dibicarakan antara Nasdem dan Gerindra pertanyaannya adalah apakah dipaksa oleh rezim penguasa hari ini atau mereka inisiatif sendiri. Nah itu pertanyaannya kan harus dibalikin lagi ke mereka," ucap Aditya.
"Walaupun memang kita paham bahwa Gerindra adalah partai penguasa. Kalau dipaksa oleh rezim, pemahamannya tentu adalah partai lain juga mungkin akan ada potensi untuk difusikan atau dijadisatukan," sambungnya.
Lain ceritanya jika dilakukan merger, yang menurut Aditya dapat dimaknai sebagai adanya komitmen dan positioning yang seimbang. Sedangkan fusi lebih mengarah kepada adanya pihak yang lebih dominan. Menurutnya, isu ini menjadi menarik dan publik dapat memantau seperti apa langkah yang akan dilakukan Nasdem maupun Gerindra.
"Kalau merger berarti kan ada komitmen untuk seimbang, sama positioning-nya. Nah pilihan-pilihan itu apa yang terjadi di antara mereka. Kita kan belum paham," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




