Freeport Kembalikan Satwa Endemik Kembali ke Habitatnya

Senin, 18 November 2013 | 10:34 WIB
RI
WP
Penulis: Robert Isidorus | Editor: WBP
Satwa Endemik Papua
Satwa Endemik Papua (Istimewa)

Jayapura - PT Freport Indonesia (FI) berkomiten dalam upaya pemulangan dan pelepasliaran satwa endemik Papua kembali ke habitatnya.

Perusahaan emas asal Amerika Serikat (AS) ini juga melakukan penelitian berkala mengenai aspek keanekaragaman hayati dengan Universitas Cenderawasi dan Universitas Papua serta istitusi penelitian dalam dan luar negeri.

Hal itu diungkapkan Vice President Environmental PT Freeport Indonesia Andi Mukhsia, dalam Pelatihan Taksonomi di Universitas Cenderawasih Jayapura, Senin ( 18/11) pagi.

Taksanomi adalah merupakan cabang ilmu yang mempelajari penggolongan atau sistematika mahluk hidup. Pelatihan ini dilakukan mulai 18-30 November yang diikuti sekitar 30 an peserta

"Pemulangan satwa ke habitatnya pernah dilakukan Freeport terhadap Labi-Labi Moncong Babi (LMB) dari pusat penangkaran di Pulau Jawa pada tahun 2006 sebanyak hampir 3000 ekor," kata dia.

Dilanjutkannya, pada bulan Desember 2007, Freeport uga bekerjasama dengan Pusat Penyelamatan Satwa di Jawa, Kementerian Kehutanan dan Pemda Merauke, mengembalikan sebanyak 21 kangguru tanah, atau Thylogale Brunii ke Taman Nasional Wasur di Merauke.

Tahun 2009, bersama-sama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua melepasliarkan sebanyak 11.400-an LMB, dan di tahun 2010 melepasliarkan sebanyak 10.900-an LMB. Tahun 2011, sebanyak 50 ekor burung Nuri dan Kakaktua.

Tahun 2012 melepasliarkan sebanyak 1.300 LMB, Kuskus Tutul (Spilocuscus maculatus), Nuri kepala hitam, Ular Sanca Hijau dan Kadal Panana (ular kaki empat). "Di tahun 2013, bersama BBKSDA Papua melepasliarkan Nuri Kepala Hitam, Perkici Pelangi dan Ulars Sanca Hijau," kata dia.

Menurut Andi, disamping upaya nyata dalam pelepasliaran satwa endemik ke habitat aslinya, Freeport juga meneruskan inisiatifnya untuk secara berkala, menerbitkan buku-buku keanekaragaman hayati. Saat ini sudah diterbitkan seri buku-buku mengenai ikan air tawar Mimika, kupu-kupu, burung dataran rendah, fauna subalpine dan Alpine, kepiting daerah Mimika, serta crustacea daerah Mimika.

"Ddalam beberapa bulan lagi akan diluncurkan buku mengenai burung di wilayah Mimika, dan Buku Kodok di wilayah Mimika," ujarnya.

Sampai saat ini, koleksi temuan dan pengamatan yang dilakukan Freeport dengan sejumlah institusi telah mengidentifikasi sebanyak 5.000 spesimen tumbuhan (herbarium).

"Itu berhasil diklasifikasikan oleh Kew Garden London yang bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Pusat Keanekaragaman Hayati Unipa. Hasilnya 1 taxa baru, 1 genus baru dan 28 merupakan spesies baru," ujarnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon