BKSDA Bengkulu Selidiki Kematian Gajah di PLG Sebelat
Kamis, 21 November 2013 | 12:11 WIB
Bengkulu - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, masih menyelidiki penyebab kematian seekor gajah betina di pusat latihan gajah (PLG) Sebelat, Kabupaten Bengkulu Utara, dua pekan lalu.
"Kita masih melakukan penyelidikan di lapangan. Apakah mati karena keracunan atau sakit. Sampai sekarang kita belum dapat memastikan penyebab kematian hewan langka ini," kata Kepala Tata Usaha BKSDA Bengkulu, Supartono kepada SP, di Bengkulu, Kamis (21/11).
Ia mengatakan, untuk mengungkapkan penyebab kematian gajah betina tersebut, BKSDA Bengkulu mengirim sampel bangkai gajah ke laboratorium Pantriner di Bogor, Jawa Barat (Jabar) untuk diteliti. Namun, sampai sekarang hasil penelitian dai Bogor belum diterima BKSDA Bengkulu.
Supartono mengatakan, kematian gajah betina tersebut dinilai janggal karena sehari sebelumnya, hewan yang dilindungi undang-undang ini dalam keadaan sehat. Namun keesokan harinya ditemukan sudah tidak bernyawa.
Kasus kematian gajah di PLG Sebelat ini, telah dilaporkan BKSDA Bengkulu ke Kementerian Kehutanan (Kemhut). "BKSDA Bengkulu tidak bisa disalahkan dalam kasus tersebut. Demikian pula jumlah gajah yang dilatih di PLG Sebelat sudah kita laporkan," ujarnya.
Terkait upaya mengatasi konflik hewan langka, seperti gajah, harimau dan beruang dengan manusia di Bengkulu, Supartono mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan membentuk tim koordinasi penanggulangan konflik satwa lair dengan manusia di daerah ini.
Nantinya, tim koordinasi ini akan ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur Bengkulu. Sedangkan anggota tim koordinasi tersebut, terdiri dari instansi teknis terkait yang bertanggungjawab masalah kelestarian satwa langka di Provinsi Bengkulu. Pembentukan tim koordinasi ini juga sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan No 48 Tahun 2008 tentang penanggulanggan konflik satwa liar dengan manusia.
Dia mengatakan, tim koordinasi penanggulanggan konflik satwa liar dengan manusia akan bekerja cepat tanggap jika ada satwa liar masuk ke perkampung penduduk. Tim akan mengusir satwa liar kembali ke habitatnya
"Kita berharap setelah terbentuk tim koordinasi ini, maka kasus konflik antara gajah, harimau dan beruang dengan manusia di Bengkulu, akan berkurang. Kita berharap tidak ada lagi warga Bengkulu yang tewas di terkam harimau, diinjak gajah dan dicakar beruang," ujarnya.
Supartono menambahkan, belakangan satwa liar yang sering masuk ke perkampungan penduduk di Bengkulu, yakni Harimau Sumatera dan Gajah liar. Pemicunya, hutan yang menjadi tempat hidup satwa liar terus berkurang, akibat aktifitas masyarakat.
BKSDA Bengkulu berharap tim koordinasi tidak hanya mengawasi konflik satwa liar dengan manusia, tapi juga mengawasi para perambah hutan, sehingga tidak terganggu habitat satwa liar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




