Pneumonia, Penyebab Utama Kematian Anak di Dunia
Rabu, 23 November 2011 | 15:58 WIB
98 persen kematian akibat penyakit ini terjadi di negara-negara berkembang.
WHO memperkirakan, secara keseluruhan hampir 1,5 juta anak balita meninggal setiap tahun akibat pneumonia.
Jumlah tersebut lebih besar dari jumlah kematian akibat AIDS, malaria dan TBC. Tak heran bila pneumonia disebut-sebut sebagai penyebab utama kematian anak-anak di seluruh dunia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan seorang anak meninggal akibat pneumonia setiap 20 detik dan 98 persen kematian itu terjadi di negara-negara berkembang.
Penelitian menunjukkan, pencegahan dan pengobatan yang tepat bisa menghindari satu juta kematian anak akibat pneumonia setiap tahun.
Aliansi GAVI mengatakan vaksin penyelamat nyawa melawan pneumonia, yang selama ini tersedia terutama di negara-negara maju kini sedang diperkenalkan di negara-negara berkembang.
Jurubicara GAVI, Jeffrey Rowland, menyebut hal itu sebagai prestasi luar biasa karena tahun lalu hampir tidak ada anak miskin di negara berkembang yang divaksinasi pneumonia.
"Pneumokokus adalah bakteri penyebab utama pneumonia. Berkat peluncuran vaksin pneumokokus secara global, 3,6 juta anak telah diimunisasi. Tahun depan, jumlah itu diperkirakan meningkat menjadi hampir 13,6 juta," tandas Rowland.
Meski demikian, vaksin bukan segalanya. Anak-anak penderita pneumonia harus diobati dengan antibiotik.
Sayangnya, banyak anak di negara-negara miskin tak mampu memperoleh fasilitas kesehatan yang bisa menolongnya.
Hasil penelitian WHO di Pakistan menemukan kebanyakan anak penderita pneumonia, bisa dirawat di rumah.
Temuan ini, kata Olivia Lawe-Davies, jurubicara WHO amat bermanfaat karena dapat menekan biaya pengobatan menjadi lebih murah dan terjangkau. Sehingga akan lebih banyak nyawa yang terselamatkan.
Beranjak dari hasil penelitian itulah kini WHO merekomendasikan agar anak-anak penderita pneumonia untuk dirawat di rumah.
WHO memperkirakan, secara keseluruhan hampir 1,5 juta anak balita meninggal setiap tahun akibat pneumonia.
Jumlah tersebut lebih besar dari jumlah kematian akibat AIDS, malaria dan TBC. Tak heran bila pneumonia disebut-sebut sebagai penyebab utama kematian anak-anak di seluruh dunia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan seorang anak meninggal akibat pneumonia setiap 20 detik dan 98 persen kematian itu terjadi di negara-negara berkembang.
Penelitian menunjukkan, pencegahan dan pengobatan yang tepat bisa menghindari satu juta kematian anak akibat pneumonia setiap tahun.
Aliansi GAVI mengatakan vaksin penyelamat nyawa melawan pneumonia, yang selama ini tersedia terutama di negara-negara maju kini sedang diperkenalkan di negara-negara berkembang.
Jurubicara GAVI, Jeffrey Rowland, menyebut hal itu sebagai prestasi luar biasa karena tahun lalu hampir tidak ada anak miskin di negara berkembang yang divaksinasi pneumonia.
"Pneumokokus adalah bakteri penyebab utama pneumonia. Berkat peluncuran vaksin pneumokokus secara global, 3,6 juta anak telah diimunisasi. Tahun depan, jumlah itu diperkirakan meningkat menjadi hampir 13,6 juta," tandas Rowland.
Meski demikian, vaksin bukan segalanya. Anak-anak penderita pneumonia harus diobati dengan antibiotik.
Sayangnya, banyak anak di negara-negara miskin tak mampu memperoleh fasilitas kesehatan yang bisa menolongnya.
Hasil penelitian WHO di Pakistan menemukan kebanyakan anak penderita pneumonia, bisa dirawat di rumah.
Temuan ini, kata Olivia Lawe-Davies, jurubicara WHO amat bermanfaat karena dapat menekan biaya pengobatan menjadi lebih murah dan terjangkau. Sehingga akan lebih banyak nyawa yang terselamatkan.
Beranjak dari hasil penelitian itulah kini WHO merekomendasikan agar anak-anak penderita pneumonia untuk dirawat di rumah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
INTERNASIONAL
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




